Nah, kalau negara lain mulai “pasang tarif” demi alasan keamanan atau kontrol, masa kita cuma jadi penonton? Ibarat warung di pinggir jalan ramai, orang lalu-lalang tapi kita cuma lihat doang tanpa jual apa-apa.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Dua puluh empat jam terakhir dalam konflik Iran ini bukan sekadar lanjutan perang – ia lebih mirip perubahan arah angin yang tiba-tiba, seperti nelayan yang sudah yakin laut akan tenang, lalu mendapati ombak justru meninggi dari arah yang tak terduga.
Sehari sebelumnya, ada pernyataan keras keluar dari pusat kekuasaan di Washington. Dengan penuh percaya diri, Iran digambarkan seolah sudah runtuh total. Narasinya sederhana: kemenangan mutlak telah diraih.
Namun, realitas di lapangan tampaknya tidak sesederhana pidato di ruang kabinet.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Iran justru meningkatkan intensitas serangannya. Gelombang demi gelombang rudal diluncurkan, menyasar berbagai titik pangkalan AS yang dianggap strategis.
Ini seperti pertandingan sepak bola yang sudah diklaim selesai oleh salah satu tim, tetapi bola masih terus bergulir dan bahkan berbalik arah ke gawang mereka sendiri.
Pihak Garda Revolusi Iran bahkan mengklaim telah melumpuhkan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Klaim ini tentu dibantah oleh otoritas militer Amerika, tetapi menariknya, bantahan tersebut tidak disertai bukti visual yang kuat. Di era ketika satu video pendek bisa mengubah opini publik, ketiadaan bukti kadang akan berbunyi lebih nyaring daripada seribu pernyataan resmi.
Tak berhenti sampai di situ, muncul pula laporan bahwa sebuah jet tempur Amerika berhasil ditembak jatuh di wilayah dekat Chabahar. Lagi-lagi, ini menjadi perang narasi – satu pihak mempublikasikan klaim, pihak lain menolak tanpa membuka seluruh kartu.
Tapi, bagian paling menarik bukan pada rudal atau jet tempur, melainkan pada laut – jalur yang selama ini dianggap sebagai urat nadi perdagangan dunia.
Iran memberi sinyal bahwa Selat Hormuz tidak lagi sekadar jalur bebas. Ia berubah menjadi semacam gerbang tol tak resmi, tempat kapal-kapal harus “membayar” untuk melintas dengan aman.
Bayangkan jika jembatan Surabaya – Madura (Suramadu) yang selama ini dibebaskan, lalu semua kendaraan besar wajib bayar jika ingin lewat tanpa hambatan. Bedanya, ini bukan jembatan antar kota – ini jalur minyak dunia. Dan jumlahnya tidak kecil.
Lebih jauh lagi, parlemen Iran disebut tengah merancang aturan untuk meresmikan sistem tersebut. Jika ini benar terjadi, maka perang tidak lagi sekadar soal senjata, tetapi juga tentang siapa yang memegang “gerbang ekonomi”.
Ancaman pun meluas ke Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah. Jika dua jalur ini terganggu, dampaknya akan terasa seperti harga cabai yang tiba-tiba melonjak – bedanya, ini bukan hanya dapur rumah tangga yang panas, tapi juga ekonomi global.
Pada titik ini, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: jika sebuah negara masih mampu mengendalikan jalur perdagangan paling vital di dunia, apakah ia benar-benar bisa disebut kalah?
Mungkin yang terjadi bukan kemenangan atau kekalahan dalam arti yang konvensional. Lebih mirip perubahan strategi – dari perang terbuka menjadi penguasaan arus. Seperti pedagang yang tak lagi berjualan di pasar, tetapi justru memiliki pasar itu sendiri.
Ironisnya, dunia seringkali lebih cepat percaya pada pernyataan yang dapat terdengar tegas daripada realitas yang bergerak diam-diam. Padahal, dalam banyak kasus, yang menentukan bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mengatur lalu lintas di belakang layar.
Jika tren ini (masih) berlanjut, maka konflik ini bukan hanya tentang siapa menyerang siapa. Ini tentang siapa yang memegang kendali atas jalan-jalan yang menggerakkan ekonomi dunia.
Kalau dipikir-pikir, kita juga punya “jalan tol dunia” sendiri, yaitu Selat Malaka. Tiap hari kapal gede lewat situ bawa minyak, barang, macam-macam.
Nah, kalau negara lain mulai “pasang tarif” demi alasan keamanan atau kontrol, masa kita cuma jadi penonton? Ibarat warung di pinggir jalan ramai, orang lalu-lalang tapi kita cuma lihat doang tanpa jual apa-apa.
Bukan soal ikut-ikutan, tapi ya logika aja – kalau jalurnya lewat rumah kita, masa kita nggak dapet apa-apa?*) Massayik IR,Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi