Minggu, 19 April 2026, pukul : 00:37 WIB
Surabaya
--°C

Ketika Pangkalan AS Lebih Penting dari Nyawa Anak-Anak

Iran ingin menampilkan diri sebagai negara yang bertindak dalam kerangka untuk pertahanan, bukan agresi. Tentu saja, klaim ini akan tetap diperdebatkan. Namun perdebatan itu semestinya berlaku adil untuk semua pihak.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran kembali memanaskan kawasan. Katanya target resminya hanya instalasi militer. Namun laporan dari lapangan menyebutkan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar, termasuk anak-anak sekolah di sebuah Madrasah Puteri di Iran.

Di titik inilah pertanyaan moral mulai mengemuka: jika jelas warga sipil yang menjadi korban, mengapa dunia Arab yang biasanya lantang berbicara soal stabilitas kawasan justru terdengar begitu pelan?

Iran membalas serangan AS dan Israel lewat operasi yang mereka sebut “True Promise 4”, dengan menghantam pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan.

Teheran menegaskan bahwa sasaran mereka adalah fasilitas militer yang telah dianggap terlibat dalam agresi. Mereka menyebutnya sebagai hak membela diri, bukan serangan membabi-buta.

Lalu muncullah reaksi dari sejumlah negara Arab – mulai dari Arab Saudi, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, hingga Maroko – yang kompak seperti paduan suara mengecam langkah Iran. Mereka berbicara tentang pelanggaran kedaulatan, ancaman terhadap stabilitas, dan bahaya eskalasi.

Namun di sinilah publik bertanya: apakah stabilitas hanya berarti aman bagi pangkalan militer AS? Apakah kedaulatan hanya penting ketika fasilitas strategis asing tersentuh, tetapi menjadi sunyi ketika warga sipil kehilangan nyawa?

Jika sebuah rumah tetangga terbakar dan anak-anak di dalamnya menjadi korban, apakah kita hanya sibuk memperdebatkan siapa yang menyenggol pagar?

Ironinya, sebagian negara yang paling cepat mengecam Iran adalah negara-negara yang selama ini menampung pasukan asing dan membeli persenjataan dalam nilai fantastis.

Mereka ini seperti orang yang menyewakan halaman rumahnya untuk dijadikan gudang petasan, lalu kaget ketika percikan api menyambar kembali ke terasnya sendiri. Dalam konteks ini, publik masih punya satu pertanyaan, apakah benar mereka penjaga stabilitas, atau sekadar tuan rumah bagi kepentingan pihak lain?

Sebagian analis melihat respons negara-negara Arab itu sebagai cerminan manja dari ketergantungan strategis. Ketika hubungan keamanan dan ekonomi begitu erat dengan Washington, keberanian untuk bersuara kritis menjadi mimpi tak terbeli.

Seperti pedagang kecil yang hidup dari satu tengkulak, suara protes bisa berarti kehilangan pasokan dagangan.

Di sisi lain, Iran berupaya untuk membangun argumentasi bahwa mereka hanya membalas pada target militer yang dianggap terlibat langsung. Dan sayangnya itu berada di negara-negara kawasan Arab.

Iran ingin menampilkan diri sebagai negara yang bertindak dalam kerangka untuk pertahanan, bukan agresi. Tentu saja, klaim ini akan tetap diperdebatkan. Namun perdebatan itu semestinya berlaku adil untuk semua pihak.

Sikap selektif dalam mengecam kekerasan justru menggerus kredibilitas moral kawasan. Ketika korban sipil dari Madrasah Putri di Iran tidak memicu kemarahan yang sama besarnya dengan kerusakan fasilitas militer AS, publik awam pun mulai sinis.

Di Indonesia, kita punya ungkapan, “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Jangan-jangan pola itu kini menular dalam diplomasi regional.

Konflik ini bukan sekadar soal rudal dan pangkalan. Ia menyangkut konsistensi sikap. Jika prinsip kemanusiaan hanya diaktifkan ketika sesuai kepentingan, maka yang runtuh bukan hanya bangunan militer, melainkan juga fondasi moral itu sendiri.

Dan sejarah biasanya mencatat bukan hanya siapa yang menembakkan peluru, tetapi juga siapa yang memilih untuk diam demi menutupi kepengecutan. (*)

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.