Ketua DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia (tengah).
SURABAYA-KEMPALAN: Kader Partai Golkar diminta tidak takut dan fight merebut òkemenangan pada Pemilu 2029. Hal ini ditegaskan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia pada acara pelantikan DPD II Partai Golkar Kabupaten/Kota se- Jatim di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (15/2).⁰
Menurut Bahlil, kepengurusan Golkar di Jatim yang ada sekarang adalah infanteri-infanteri terbaik yang siap membesarkan partai.
“Apa yang harus kita takuti, harus fight rebut Pemilu 2029, kalau banyak pengurus DPD II di Jatim yang jadi anggota DPRD di Jatim,” katanya.
Dia menyebut Jatim sebagai daerah yang penuh dengan sejarah. Surabaya adalah Kota Pahlawan. Siapa yang bisa menguasai Jatim, maka dia akan bisa menguasai Indonesia. Jatim kerap menjadi barometer sekaligus ujian utama bagi kekuatan politik nasional, termasuk Partai Golkar.
“Partai Golkar tidak dilahirkan segelintir elit, tapi dilahirkan menjawab persoalan bangsa saat itu pada 1955-1960,” ujar Bahlil.
“Ini karena ada kelompok yang ingin mengganti ideologi dengan komunis. Akhirnya ada 97 organisasi yang bergabung,” sambungnya.
Di antara organisasi itu, Bahlil menyebut ada wartawan, bidan, dokter, nelayan, petani, ulama, kelompok Kristen, dan lainnya yang melahirkan sekber. Sekber ini melahirkan Golkar, yang lahir dari kandungan rakyat adalah Partai Golkar.
“Partai Golkar bukan milik siapa-siapa, tapi milik rakyat, dengan doktrin karya-kekaryaan. Maka, Golkar harus kita jadikan rumah aspirasi bersama dan aset bangsa. Golkar bukan milik elite atau kelompok tertentu, melainkan rumah besar rakyat dengan doktrin kekaryaan,” tegasnya.
Bahlil makin optimistis Golkar bakal memenangkan Pemilu 2029, berdasarkan ilmu langitannya yang diperoleh dari Papua. “Dari penerawangan saya, kalau kita kerja gotong royong, maka bisa akan menambah kursi DPRD kabupaten/kota, provinsi, dan DPR RI,” ucapnya.
Terkait pelantikan Ketua DPD II Partai Golkar se-Jatim serentak ini, Bahlil menyebut agenda ini sebagai sejarah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya di tubuh Partai Golkar maupun partai politik lain di Indonesia.
“Lahirnya sejarah baru ini tidak terlepas dari inovasi kepemimpinan Ketua DPD Golkar Jatim, yang berani menghadirkan pola konsolidasi organisasi secara serentak, terstruktur, dan masif. Kebijakan ini bersifat kondisional, jadi tidak harus sama di semua daerah,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi