Kamis, 30 April 2026, pukul : 10:38 WIB
Surabaya
--°C

Dari Limbah Menjadi “Koreografi” Kluget Kluget

KEMPALAN : Jumat malam lalu, pukul 19.33, sebuah video berjudul “he dances like trash in the wind” (dia menari mirip sampah/limbah yang ditiup angin), masuk ke kolom WA saya. Video berdurasi 1 menit 19 detik ini dikirim oleh sahabat saya M. Anis, 71 tahun, jurnalis yang juga penggiat kesenian.

 

Video tersebut ber-platform instagram, sebagaimana saya kenali dari logonya.

 

Setelah saya klik, terlihatlah dua benda — manusia(-manusia) dan sebentuk limbah(-limbah), di mana sang manusia bergerak menirukan limbah yang tertiup angin.

 

Tampak mirip botol aqua yang penyet yang labelnya masih setengah menempel di penyetan botol plastik tersebut, bergerak-gerak tertiup angin, tergeletak di tepi jalan.

 

Kemudian ditirukan oleh sesosok manusia yang berkostum mirip botol plastik penyet itu.

 

Lantas adegan lain memperlihatkan bungkus jajanan anak-anak mirip Chiki.

 

Nah, bungkus “Chiki” tersebut tertekuk separuh (mungkin setelah setengah diuntel-untel) kemudian dibuang, tergeletak di tanah, selanjutnya bergerak pelan-pelan karena angin yang bertiup sepoi-sepoi.

 

Sesosok laki-laki yang sama, berkostum mirip “limbah” bungkus jajanan tersebut, bergerak merangkak mengikuti gerakan bungkus tersebut.

 

Pada video ini saya catat terdapat 18 judul (gerakan) menirukan limbah tertiup angin.

 

Pada gerakan yang lain, karena angin terkadang bergerak setengah memutar “menerbangkan” (salah satu) limbah, maka gerakan sosok laki-laki bertubuh mungil tadi menjadi mirip gerakan limbah plastik yang tertiup angin itu : setengah memutar 180 derajat.

 

Atau tubuh bergulingan menirukan gerakan bungkusan limbah.

 

‘Wow !’, demikian saya membatin. Sajian ini benar-benar di luar frame yang ada di pikiran saya.

 

Lantas kepada Pak Anis sahabat saya tersebut, saya berikan komentar : Keren ide video ini, Pak Anis. Original !

 

Pak Anis membalas dengan tanda hormat ‘tiga namaste.’

 

 

Sabtu paginya, pukul 06.35, Pak Amir Kiah, 73 tahun, sobat saya yang sutradara dan penata panggung dari komunitas Bengkel Muda Surabaya, mengirim video yang sama. Namun, di bawah video tersebut diberi tambahan teks : konten kreatif (tak ada yang ajaib) 🤝.

 

Lantas saya komentari begini : Seandainya “koreografi” ini tak ada pembandingnya “materi limbah yang bergerak-gerak” tertiup angin, maka netizen akan bertanya-tanya : iki maksude opo? (ini maksudnya apa?). Tapi okelah, apapun konsep penyajian ini : menarik !

 

Lantas oleh Pak Amir direspons dengan kalimat : ber-rasa kontemporer 🤝.

 

Sekira 5 jam kemudian, persisnya pukul 11.17, video yang sama dikirim Pak Achmad Zainuri, 62 tahun, yang lantas saya komentari persis komentar saya yang saya sampaikan ke Pak Amir Kiah.

 

Lantas dijawab oleh sutradara teater yang komandan grup musik Bledeg Sigar : Dianggap cuma kluget2 😃😃😃🙏🙏🙏… Yang menarik, gerakan benda yang dihayati tidak mudah untuk dikonversi ke tubuh manusia… Hal itu yang jarang terjadi di gerakan kluget2 😃😃😃🙏🙏🙏…

 

 

Bagi saya, dan saya percaya orang lain pun akan banyak berpendapat demikian bahwa karya seni itu hendaknya lahir dari kejujuran, orsinilitas — kendati banyak yang berpendapat bahwa tak ada yang aneh di dunia ini.

 

Ya, tapi meski tak ada yang aneh, yang asli, orsinil –apalagi jika berpijak pada nilai-nilai estetika dan humanisme– saya yakin akan ada yang berseru begini : wauw !

 

Dan rasanya konten yang diunggah oleh akun ‘art dailydose’ ini belum pernah saya lihat sebelumnya. Asli, Rek !

 

Oh ya, barusan saya di-WA Pak Anis bahwa nama aktor yang menirukan gerakan limbah tersebut : Shoji Yamasaki. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.