KEMPALAN : Saya pikir VT (Video TikTok) yang lewat di beranda akun TikTok saya ini cukup menarik. Judulnya : Terlalu Miskin untuk Resign, Terlalu Tua untuk Cari Loker Lagi.
Di bawah judul tersebut diberi penjelasan begini : Dilema Bapak2 Paruh Baya (Usia 35 – 40 Tahun).
VT ini berinduk pada akun ‘kocar koma’ yang di-like 7.863, dikomentari 773, dan telah dibagikan ke 1.379 netizen.
Ada enam alinea, ditempatkan di ruang caption, di bagian bawah. Salah satu alinea bunyinya begini : Anda memang pahlawan buat keluarga. Setiap kepulangan Anda dari kerja, selalu dinantikan. Tetapi Anda bukan siapa-siapa bagi corporate. Begitu Anda resign, posisi Anda banyak yang siap menggantikan.
Caption tersebut diberi judul : Budak Corporate.
Sementara visualisasi VT ini lebih mirip gambar statis.
Selain kata-kata yang berfungsi sebagai judul dan subjudul, VT ini diberi ilustrasi gambar kartun, melukiskan seorang laki-laki sedang nangkring pada sepeda motor tipe bebek. Di kepalanya bertengger helm.
Posisinya berada di depan halaman rumah ukuran kecil. Wajah lelaki ini gundah, sayu, menatap wajah kita.
—
Agaknya lebih menarik menghayati problem sosial di atas, jika kita baca berbagai opini di kolom komentar.
Akun ‘@nanang sugali’ menulis sebagai berikut : “Di usia udah 40-an malah kena PHK. Akhirnya nekat … dorong gerobak jualan tahu gejrot. Alhamdulillah…rejeki malah lebih gede dibanding saat kerja … 😁”
Lantas akun ‘@pepesan kosong’ : “Dulu waktu masih jadi karyawan, kerja cuma 8 jam. Tapi sekarang usia sudah kepala 5 jadi ojol, eh .. jam kerja malah bisa 12 sampe 15 jam sehari. Gakpapa, enjoy aja. Alhamdulillah yang penting shalat selalu terjaga.”
“Ngelamar jadi OB tahun 2019, keterima di sekolah swasta. Dua tahun jadi karyawan kontrak, terus diangkat jadi karyawan tetap. April 2025 di-PHK, dialihkan ke outsourcing, milih keluar dan buka usaha. Ternyata tidak sesuai rencana. Sekarang pengen kerja lagi… usia sudah 44 bisa gak ya ???,” tulis akun ‘@ucok petrozza’.
Akun ‘@Pengangguran’ menulis komentarnya : “Saya lebih memilih resign, memulai hal baru dari nol. Semoga belum terlambat, daripada bertahan gak ada peningkatan.”
“Ujian hidup memang datang di umur-umur segini, jika lolos bakal sukses 😃,” komentar ‘@wiratmoko’.
“Umur 39 tahun, resign kerja dari gaji 50 juta, tabungan udah 800 juta. Mau buka usaha malah bingung, akhirnya saya bangun tidur, ternyata barusan ngimpi.. 🤣🤣🤣,” tulis akun ‘@SakinahMawadahBarokah’.
Sedangkan akun ‘@N’suryana’ berkomentar bernada optimistis : “Sehat² pejuang keluarga, mungkin sebagian besar keluh kesah kita sama. Tetap jalani kehidupan dengan penuh semangat. Kita lawan pahit manisnya dunia, biarkan senyum anak istri jadi bahan bakar semangat kita💪.”
—
Sebagaimana data yang saya peroleh dari Meta AI, angkatan kerja di Indonesia terus meningkat setiap tahun.
Pada Februari 2025, jumlahnya mencapai sekitar 147,71 juta orang, dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 70,13 persen.
Dari jumlah tersebut, sekitar 140,43 juta terserap dalam pekerjaan, sedangkan 7,28 juta orang lainnya masih menganggur.
Namun, angka PHK di Indonesia tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan. Pada semester pertama 2024, tercatat 101.536 pekerja mengalami PHK, melonjak drastis dari 37.375 kasus pada 2023.
Beberapa faktor penyebab PHK massal di Indonesia tahun 2025 antara lain : kondisi ekonomi tidak stabil — resesi global dan inflasi 3% pada 2024 membuat daya beli masyarakat menurun, dan revolusi teknologi serta otomatisasi — pada sektor manufaktur, terutama industri garmen dan tekstil, terdampak penurunan permintaan global dan persaingan produk impor.
Dampak PHK massal sangat luas, termasuk kenaikan tingkat pengangguran, penurunan daya beli, dan potensi ketidakstabilan sosial.
—
Untuk mengatasi krisis ini, tulis Meta AI, perlu kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan guna meningkatkan keterampilan pekerja dan menciptakan lapangan kerja baru.
Timbul pertanyaan : Apa bisa? Bagaimana dengan faktor income per capita tanpa dibarengi distribusi kesejahteraan yang begitu jomplang?
Bukankah sebagaimana dipublikasikan banyak media di Indonesia –baik media massa maupun medsos– sekitar 20% orang-orang kaya menguasai sekitar 80% kekayaan negara.
Padahal income per capita kita cuma 4.900 US dollar, kalah dengan Thailand yang 7.750 US dollar dan Malaysia yang 14.420 US dollar. Lebih-lebih jika dihadapkan Singapura : 93.960 US dollar. N
Sementara sumber daya alam kita ibarat kolam susu, dan batu pun jadi tanaman.
Tapi apa daya, peringkat korupsi Indonesia menurut Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2024 : 99 dari 180 negara.
Sedangkan negara kita saat ini berada di koridor kapitalistik. Kendati kata Cak Nun negara menganut kapitalis dependen, toh nafasnya hampir sama :
sistem ekonomi di mana individu atau perusahaan swasta memiliki dan mengontrol sumber daya produksi — seperti modal, tanah, dan tenaga kerja.
Pada sisi lain, negara dikuasai oligarki — di mana sistem kekuasaan berada di genggaman sekelompok kecil orang dan atau perusahaan yang memiliki kontrol signifikan atas ekonomi, politik, dan masyarakat.
Padahal sudah banyak yang tahu, betapa eratnya jabat tangan kapitalis dan oligarki saat ini.
Artinya, jika Anda masih bekerja sebagai buruh, jangan harap hidup tenang di sektor finansial. Ancaman PHK dan gaji UMR akan terus membayang-bayangi. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi