Radio: Jati Diri, Relevansi, dan Pertarungan yang Belum Usai

waktu baca 4 menit
ilustrasi penyiar radio

KEMPALAN: ‎Di tengah derasnya digitalisasi, banyak radio di Indonesia tumbang satu per satu.
‎Ada yang melemah, ada yang mati perlahan, dan ada yang memilih bertransformasi secara keliru. Padahal media online, podcast, dan platform digital lainnya hanyalah amplifier dari jati diri radio, bukan pengganti.

‎Karena itu para praktisi radio yang kuat akan tetap bermain di medan aslinya: menjaga karakter radio, mencari kembali rasio pendengar, dan memastikan radio tetap dicari.

‎Radio masih bisa dibangun beriringan dengan zaman tanpa harus meninggalkan jati dirinya.

‎Relevansi bukan berarti berubah bentuk menjadi media lain. Relevansi adalah kemampuan memperbarui kreativitas dalam tubuh radio itu sendiri. Mereka yang memahami radio tahu bahwa kekuatan ini tidak hilang. Yang hilang adalah kecakapan sebagian orang membaca kembali dasar-dasar radio.

‎Sayangnya, beberapa lembaga radio tergelincir. Dengan alasan relevansi, mereka meninggalkan keunikan audiens, meninggalkan program khas, bahkan ingin berubah seolah menjadi portal berita atau televisi kecil. Bagi lembaga penyiaran publik, langkah itu tidak hanya keliru, tetapi bertentangan dengan mandat negara.

‎RRI, TVRI, dan LKBN Antara sudah diberikan tugasnya masing-masing. TVRI memegang mandat visual, RRI memegang mandat audio, dan Antara bertugas pada ranah portal informasi nasional. Jika ketiganya digabungkan, maka cara bekerjanya pun harus berdasar mandat asli masing-masing. Portal adalah ranah Antara. Audio adalah ranah RRI. Visual adalah ranah TVRI.

‎Karena itu RRI harus bertahan pada jati dirinya sebagai radio. Relevansi tidak dicari dengan menjadi media lain. Relevansi dicapai lewat inovasi kreatif di dalam radio itu sendiri. Ada ribuan cara membangun kembali daya tarik siaran tanpa melacurkan diri pada bentuk-bentuk media yang bukan bagiannya.

‎Para praktisi radio yang sesungguhnya memahami ini. Mereka tahu bahwa meski pendengar menurun, relevansi tetap bisa dikejar tanpa kehilangan jati diri. Mereka yang tergesa-gesa meninggalkan radio demi “relevansi” hanyalah orang yang mengerti sedikit tentang radio, bukan penjaga sesungguhnya.

‎Studi Kasus: Radio Suara Surabaya

‎Suara Surabaya adalah bukti bahwa radio tidak pernah mati selama ia setia pada fungsinya. Dengan program ikonik Kelana Kota, mereka memusatkan kekuatan pada komunikasi dua arah, laporan warga, kecepatan informasi lokal, dan kedekatan emosional.

‎Formatnya tidak bergantung pada musik atau efek digital. Jati dirinya ada pada pelayanan publik, keterlibatan warga, kehangatan, dan ritme lokal yang tidak bisa digantikan platform mana pun.

‎Kekuatan itu membuatnya tetap menjadi rujukan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur hingga hari ini. Relevansi Suara Surabaya datang dari kualitas interaksi manusianya, inti dari radio itu sendiri.

‎Studi Kasus: Radio Elshinta

‎Elshinta juga berdiri sebagai contoh lain. Mereka menegaskan identitasnya sebagai radio berita penuh. Bukan campuran, bukan mendua. Dengan konsistensi itu, publik mengetahui apa yang mereka dengarkan. Identitas jelas adalah fondasi loyalitas.

‎Elshinta bertahan karena formatnya jernih: berita, informasi, dan laporan langsung dari jaringan kontributor nasional. Tidak mencoba menjadi televisi, tidak mencoba menjadi portal, dan tidak berubah menjadi platform yang bukan dirinya.

‎Studi Kasus: Pro Lima RRI Surabaya

‎Pro Lima RRI Surabaya adalah contoh paling tegas bagaimana jati diri radio mampu menghasilkan relevansi baru.

‎Mengusung format more music yang dirancang secara presisi, Pro Lima hidup karena segmentasinya dirancang dengan cermat. Kekuatan utamanya ada pada programer dan music director yang benar-benar memahami jiwa segmen pendengarnya.

‎More music bukan sekadar putar lagu. Pro Lima memadukan atmosfer, ritme, mood, serta kombinasi musik yang terukur. Hasilnya adalah program radio yang tidak hanya didengar, tetapi dicari.

‎Selain di udara melalui siaran teresterial, Pro Lima juga dipancarkan lewat streaming RRI yang terhubung dengan seluruh jaringan nasional.

‎Banyak pendengar dari luar negeri, tenaga kerja Indonesia dari Hong Kong, Taiwan, hingga Timur Tengah—mengirim pesan melalui WhatsApp resmi RRI Surabaya karena menemukan “suasana rumah” lewat alur musik Pro Lima.

‎Contoh konkret: seorang pendengar dari Hong Kong menulis, “Saya kerja malam dan dengar Pro Lima karena musiknya pas banget buat teman kerja. Rasanya seperti lagi di Surabaya.” Pesan nyata seperti itu memperlihatkan bahwa jati diri radio masih mampu menembus batas geografis sekalipun.

‎Relevansi Pro Lima tidak lahir dari meninggalkan jati diri radio, tetapi dari mengasahnya lebih tajam.

‎Diferensiasi

‎Pada akhirnya yang paling menentukan bukanlah teknologi, tetapi diferensiasi dan manfaat siaran. Bagi lembaga penyiaran publik, diferensiasi itu bahkan tidak cukup; siarannya harus bermanfaat bagi pendengar.

‎RRI dan TVRI memiliki jaringan luas, kearifan lokal, dan akar budaya yang tidak bisa digantikan platform digital mana pun.

‎Justru dari kearifan lokal itu kekuatan relevansi tumbuh: kedekatan suara, kehangatan karakter, dan konteks lokal yang hidup di setiap siaran.

‎RRI dan TVRI adalah mata budaya dan mata publik. Selama mereka berdiri tegak pada mandatnya sebagai radio dan televisi publik yang memelihara jati dirinya, radio dan televisi teresterial tidak perlu takut bersaing. Publik akan selalu kembali kepada media yang identitasnya jelas dan manfaat siarannya nyata.

‎Radio tidak mati. Yang mati adalah cara berpikir yang meninggalkan jati diri radio.

‎Oleh:  M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar

  1. Ike agustiana

    Narasi keren pak Rohan.

    Balas
Sudah ditampilkan semua