Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai ketika memberi keterangan pada wartawan, Rabu (10/12) malam. (Foto: dwi arifin/kempalan.com).
SURABAYA-KEMPALAN: Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan biaya pendidikan sebesar Rp.48,077 miliar untuk 48..077 siswa SMA, SMK, dan SLB se-Jatim. Program ini digulirkan untuk menekan angka putus sekolah (APS) sekaligus mencegah siswa rentan putus sekolah (RPS).
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, bantuan biaya pendidikan ini masuk dalam P-APBD dan prosesnya sudah dievaluasi.
Sedang mengenai pencairannya, mulai Kamis (11/12) minimal di setiap cabang Kantor Bank Jatim di seluruh daerah bisa berkoordinasi dengan kantor cabang dinas pendidikan yang ada di kabupaten/kota.
“Prosesnya tentu, data itu sudah ada di Bank Jatim, dan cabang dinas juga sudah punya data. Nanti masing-masing anak punya virtual account, sehingga kalau mau ambil uang bisa menggunakan viirtual account itu bersama kartu pelajar dan kartu KK-nya. Tidak bisa diambil oleh orang lain, termasuk gurunya,” kata Aries di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (10/12) malam.
Menurut Aries, data tersebut berdasarkan data desil satu dan dua yang belum pernah menerima bantuan apapun, baik Program Indonesia Pintar (PIP) atau program bantuan sejenis dari pemerintah pusat maupun daerah. “Kita berharap dengan bantuan ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah bagi murid,” ujarnya.
Aries menegaskan bahwa bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melalui program Jatim Cerdas, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan prestasi siswa, khususnya dari keluarga kurang mampu pada desil satu dan dua.
“Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran Rp48,077 miliar untuk program ini. Setiap siswa menerima Rp1 juta bantuan pendidikan, dengan rincian 11.362 siswa SMA, 24.339 siswa SMK, dan 12.376 siswa SLB,” jelas Aries.
Dia berharap bantuan ini dapat membantu pembiayaan kebutuhan sekolah, mulai dari pembelian buku pelajaran, seragam, hingga kebutuhan penunjang lainnya.
“Bantuan ini untuk menjamin keberlangsungan belajar siswa dari keluarga prasejahtera dan meringankan beban pendidikan,” tuturnya.
Aries mengungkapkan bahwa program ini semula ditargetkan hanya untuk 5.700 siswa, tapi kemudian membengkak jadi 48.077 siswa, menyesuaikan data DTSEN serta kemampuan keuangan daerah.
Dia menegaskan bahwa Pemprov Jatim akan berupaya menjaga keberlanjutan program ini sampai tahun-tahun mendatang. “Tentunya menyesuaikan dengan kemampuan anggaran,” pungkas Aries. (dwi arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi