“Wali Katon” Buku Kumpulan Cerpen & Cerkak Sasetya Wilutama Diluncurkan

waktu baca 4 menit
Momen peluncuran buku kumpulan cerpen&cerkak "Wali Katon' karya Sasetya Wilutama, 29 November 2025.

KEMPALAN : Sasetya Wilutama (63 tahun) jurnalis dan sastrawan, kembali menerbitkan buku karyanya. Sebelumnya, pada 3 September lalu meluncurkan buku kumpulan feature “Wong Katrok Melbu Media.

Lantas pada Sabtu 29 November 2025, di RM Pecel Bu Kus, Barata Jaya, Surabaya, kembali punya gawe. Kali ini me-launching buku kumpulan cerpen & cerkak (cerita cekak, cerpen berbahasa Jawa) : “Wali Katon.”

Karya cerpen maupun cerkak yang terkumpul dalam buku ini sudah pernah dimuat di media cetak dan media online, periode tahun 2022 – 2025. Antara lain di Majalah Penyebar Semangat, Jaya Baya, detik.com, dan beberapa media online lainnya.

Dikatakan Mas Sas –demikian saya biasa memanggil– ini sekaligus menandai masa “bangun tidur” dalam dunia tulis menulis, khususnya sastra.

“Tahun-tahun sebelumnya, saya “tertidur” karena kesibukan yang sangat padat sebagai pekerja televisi dan berbagai masalah lain. Nyaris vakum dari kegiatan menulis sastra,” paparnya.

Perjalanan Mas Sas dalam menulis sastra, diawali pada 1980 – 1990-an.

“Pada sekitar dasawarsa itu, saya cukup produktif menghasilkan tulisan sastra, khususnya cerpen dan cerkak,” jelasnya, yang lantas menambahkan, “Karya saya banyak menghiasi halaman surat kabar dan majalah, antara lain : Kompas, Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Horison, Kartini, Gadis, Penyebar Semangat. Namun, karena “kelalaian” saya, tak satu pun dokumentasi karya itu tersimpan.”

“Khawatir “kelalaian” itu berulang, maka saya kumpulkan karya-karya saya dalam bentuk buku sekumpulan cerpen & cerkak yang kini hadir di hadapan pembaca.”

Lebih lanjut dikatakan : “Dalam buku ini sengaja karya cerpen dan cerkak saya gabungkan. Bahkan jika saya bisa menulis dalam bahasa Sunda atau Madura, tentu juga akan saya gabungkan.

Bukan semata karena saya bisa menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Ibu, namun saya menganggap bahwa karya sastra adalah cipta karsa universal, tak ada batasan pemakaian bahasa. Juga tidak ada dikotomi bahwa karya sastra berbahasa Indonesia lebih baik atau lebih mentereng dari karya sastra Jawa. Begitu juga sebaliknya.”

Lantas disambung : “Karya sastra yang dituangkan ke dalam bahasa nasional maupun bahasa daerah, mempunyai hak yang sama untuk dihargai, mempunyai kualitas yang sama untuk memperkaya khasanah literasi dan sastra Indonesia.”


Sejumlah jurnalis, sastrawan, dan pemerhati literasi, hadir pada peluncuran yang pada pertengahan acara diguyur hujan deras. Sehingga berakibat pada tarip Go Car. Saat saya berangkat ke lokasi acara ini belum hujan, cuma 20 ribu rupiah. Ketika pulang dengan masih suasana hujan meski tidak sederas sebelumnya, dikenakan 44 ribu rupiah.

Acara ini sekaligus sebagai silaturahmi komunitas literasi Warumas (Wartawan Usia Emas).

Hadir Ketua Warumas Kris Maryono, para jurnalis dan penyair : Toto Sonata, Imung Mulyanto, Cak Rokim Dakas, Achmad Pramuditto, Shanty Nicholas, dan beberapa lainnya. Di antaranya sejumlah alumni Akademi Wartawan Surabaya, juga mantan pejabat di lingkungan Humas Pemprov.Jawa Timur dan Dinas Infokom Jatim.

Terlihat : Herry Siswa yang alumnus AWS dan pensiunan Harian Surya.

Juga hadir Bu Nur Hidayah dan Bu Magda.


Imung Mulyanto penyunting “Wali Katon” memberi catatan begini :

Baik cerpen maupun cerkak Sasetya, kebanyakan mengangkat pahit getirnya problema kehidupan sehari-hari wong cilik. Struktur bertuturnya maju mundur, kebanyakan memakai pendekatan flash back, terutama untuk memberi obligatory fact dalam cerita.

Plot twist yang digunakan seringkali mirip-mirip. Selalu ada kejutan dan ketegangan, sehingga mengikat ketertarikan pembaca untuk mengikuti hingga akhir. Ada pengkhianatan tak terduga, identitas tersembunyi, dan perubahan sudut pandang.
Urusan teknik bercerita, Sasetya sudah sangat khatam.

Soal pengkhianatan tak terduga misalnya dapat ditemui pada cerkak “Pawakan.” Bayangkan, betapa remuk redam dan sakitnya hati seorang istri memergoki suaminya berselingkuh dengan anak perempuannya.

Unsur kejutan nyaris dapat ditemui pada seluruh cerpen maupun cerkak. Tetapi yang paling terasa misalnya ada pada cerkak “Wali Katon” dan cerpen “Ibu Hanya Ingin Dimengerti.”

Lebih lanjut dikatakan mantan redaktur seni Harian Surabaya Post dan mantan pemred Arek Televisi ini : “Kebetulan saya nyaris mengenal penulis buku ini luar dalam. Bahkan plot hidupnya. Rupanya cerpen dan cerkaknya banyak terinspirasi inner conflict yang mewarnai sekuen hidupnya dan orang-orang dekat di sekitarnya. Jadi, cerpen dan cerkaknya boleh disebut refleksi dari pengalaman lahir dan batinnya.


O ya, hampir lupa — hadir juga di momen kreativitas ini : Dony Tunggul redaktur pelaksana Majalah Panyebar Semangat, Denting Kemuning penyair dan poetry reader produktif, dan Neni Bachtiar pimpinan majalah pendidikan dan kebudayaan : Media. (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *