EINDHOVEN-KEMPALAN: Status SSC Napoli sebagai klub terbaik defense-nya di musim lalu, gagal berlanjut musim ini. Bukan hanya di Liga Italia, rapor buruknya juga berlanjut di Liga Champions.
Rabu dini hari WIB (22/10), Napoli dihabisi PSV Eindhoven 2-6 dalam matchday ketiga fase League Liga Champions di Philips Stadion, Eindhoven. Kekalahan yang dialami Giovanni Di Lorenzo dkk tersebut jadi yang terburuk dalam sejarahnya di Liga Champions.
Bahkan, dalam semua ajang, baru kali dalam 28 tahun klub berjuluk Il Partenopei itu menelan kekalahan dengan kebobolan setengah lusin gol. Terakhir, kekalahan terbesarnya terjadi pada 21 Desember 1997.
Ketika itu, Napoli menelan kekalahan 3-6 atas UC Sampdoria, dalam Liga Italia di edisi 1997—1998. Sejak saat itu Napoli mentok cuma menelan kekalahan dengan kebobolan maksimal lima gol.
Kehancuran juara bertahan Liga Italia tersebut dimulai setelah kehilangan salah seorang pemainnya, Lorenzo Lucca, yang dikartu merah pada menit ke-76. Pasca bermain dengan sepuluh pemain itu, Napoli kebobolan tiga gol!
Sempat unggul lebih dulu dari gol Scott McTominay pada menit ke-31, gol bunuh diri Alessandro Buongiorno menit ke-35 menyamakan kedudukan. PSV berbalik di menit ke-38 lewat gol Ismael Saibari.
BACA JUGA: Kursi Pelatih Napoli yang Menguji Conte
Wide attacker PSV Dennis Man menambah keunggulan pada menit ke-54. Setelah itu, barulah Napoli bermain dengan 10 pemain. Man menjebol gawang Napoli lagi di menit ke-80.
Gol tambahan dari McTominay pada menit ke-86 gagal menyelamatkan Napoli di laga tersebut. Sebab, PSV menambah kembali keunggulannya lewat Ricardo Pepi di menit ke-87 dan Couhaib Driouech (89’).
Perubahan formasi dari back three ke back four musim ini, disebut-sebut sebagai penyebab kebobrokan pertahanan Napoli. Musim ini, Napoli lebih sering bermain dengan skema 4-1-4-1.
Meski begitu, Di Lorenzo menyanggahnya. ’’Tidak juga. Musim lalu, kami bermain dengan skema serupa. Ini bukan tentang formasi, melainkan tentang keinginan di dalam menghindari kebobolan,’’ kata Di Lorenzo dilansir dari laman Tutto Napoli.
’’Kami harus menemukan kembali komponen-komponen yang jadi perbedaan di musim lalu,’’ sambung Di Lorenzo. Setali tiga uang, allenatore Antonio Conte juga menolak anggapan perubahan skema jadi alasannya.
Berbicara kepada Sky Conte menyebut perubahan sistem bukan masalah. ’’Tetapi selalu ada pemain yang harus menggantikan pemain lain. Padahal kami harusnya menempatkan yang terbaik di starting eleven dan menemukan chemistry antara mereka,’’ tegas Conte. (YMP)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi