KEMPALAN: Nepal diguncang unjuk rasa berdarah yang melengserkan Perdana Menteri Sharma Oli. Demonstran membakar sejumlah gedung pemerintah termasuk gedung parlemen. Sebanyak 22 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka akibat bentrokan dengan polisi.
Demonstrasi yang meluas dipicu oleh kekecewaan rakyat terhadap kegagalan pemerintah dalam menangani kemiskinan. Di sisi lain keluarga pejabat pamer kekayaan dengan melakukan flexing di media sosial.
Beberapa video di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram menunjukkan kerabat pejabat pemerintah dan menteri bepergian atau berpose di samping mobil mahal. Mereka juga mengenakan pakaian bermerek dari desainer ternama.
Nepal adalah negara dengan dua partai yang berhaluan marxis kiri. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial yang sangat lebar, yang menyebabkan munculnya ketidakpuasan publik yang luas.
Publik kecewa karena anak-anak pejabat itu pamer kekayaan tanpa rasa malu. Mereka dijuluki sebagai ‘’Nepo Kids’’ atau anak-anak nepotisme. Disebut demikian karena mereka menjadi kaya raya karena korupsi dan nepotisme yang dilakukan oleh orang tuanya.
Kemarahan terhadap anak-anak nepo mencerminkan frustrasi publik yang meluas. Masyarakat terkejut bagaimana para elite politik, orang tua dari anak-anak nepo, yang dulu hidup sederhana sebagai pekerja partai, kini memamerkan gaya hidup mewah yang berlebihan.
Gerakan ini tidak dikendalikan oleh sebuah organisasi yang punya struktur dan hirarki. Gerakan ini meluas justru karena tidak mempunyai kemepimpinan tunggal. Para demonstran bergerak dan mengorganisasikan diri melalui platform media sosial.
Motor gerakan ini adalah anak-anak generasi Z yang marah menyaksikan kesenjangan sosial dan ekonomi yang menganga. Mereka menghadapi kesulitan ekonomi karena peluang kerja yang sulit, sementara para anak-anak nepo itu sibuk flexing, memamerkan barang mewah dan liburan ke luar negeri yang mahal.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa anak-anak generasi Z tidaklah anti politik. Selama ini muncul sinyalemen bahwa generasi milenial dan generasi Z adalah generasi rebahan yang tidak peduli politik.
Kasus Nepal membuktikan bahwa anak-anak muda itu melek dan peduli politik. Mereka melakukan gerakan politik dengan cara mereka sendiri, yang sangat berbeda dengan gerakan politik konvensional generasi ayah dan kakek mereka.
Di Prancis muncul gerakan ‘’Block Eeverything’’, blokir semuanya, karena publik sudah muak dengan pemerintahan Emmanuel Macron. Unjuk rasa besar pecah di kota-kota besar Prancis membuat polisi bertindak keras dengan melemparkan gas air mata dan menangkap hampir 200 demonstran.
Inilah bentuk baru gerakan perlawanan berbasis digital. Salah satu ciri yang menonjol adalah tidak adanya kepemimpinan personal. Semua yang terlibat dalam gerakan disatukan dan dikoordinasikan bersama dengan mempergunakan platform media sosial.
Gerakan di Nepal dan Prancis dipengaruhi oleh gerakan di Indonesia. Setidaknya hal itu terlihat dari berkibarnya bendera One Piece dalam gerakan massa di Nepal dan Prancis.
Gerakan semacam ini lebih solid dan terarah dan tidak mudah dipatahkan. Gerakan rakyat yang mempergunakan kepemipinan personal lebih mudah dipatahkan melalui negosiasi, konsesi, dan kompensasi. Gerakan rakyat Pati, yang menggemparkan secara nasional, tiba-tiba layu sebelum berkembang, karena pemimpin gerakan itu berdamai dengan bupati.
Fenomena Nepal direspons oleh Prabowo Subianto dengan mengundang seluruh kader Gerindra ke Hambalang. Pertemuan rahasia, tetapi bisa diduga bahwa Prabowo melakukan konsolidasi internal supaya kader-kadernya tidak tergelincir dalam tindakan yang memicu kemarahan publik.
Selesai pertemuan Achmad Dhani menjadi jurubicara kepada media. Dalam pertemuan itu dia mengusulkan ada undang-undang anti-flexing. Entah macam apa undang-undang itu. Sampai batas mana seorang pejabat dan keluarganya bisa disebut melakukan flexing.
Dalam kondisi politik yang belum kondusif justru Dhani yang melakukan flexing yang nir-empati. Dia menyelenggarakan konser Dewa All Stars ketika situasi politik tengah menggelegak.
Ia lebih sibuk mempersiapkan konser ketimbang memikirkan kondisi politik. Dengan berkonser di tengah situasi politik yang panas Dhani menunjukkan bahwa anggota DPR tidak banyak pekerjaan. Dan itu adalah flexing yang berbahaya.
Gerindra benar-benar ingin membersihkan diri dari amarah publik. Salah satu korbannya ialah anggota DPR RI Rahayu Saraswati yang dipaksa mundur dari DPR. Ia mundur karena videonya yang viral dianggap merendahkan publik.
Prabowo masih ketar-kerit karena reshuffle belum tuntas, dan belum sepenuhnya diterima publik. Purbaya Yudhi Sadewa, menteri keuangan yang baru sudah membuat blunder pada hari pertama.
Pernyataannya tidak sensitif dan cenderung serampangan. Kalau gaya komunikasi publiknya tidak dibenahi ia akan sibuk meminta maaf daripada kerja, karena pernyataannya akan makin sering disorot.
Purbaya harus belajar bagaimana caranya berada di spotlight. Dia harus sadar bahwa dia duduk di kursi panas, the hottest chair in the cabinet, kursi paling panas di kabinet.
Beberapa bulan terakhir Sri Mulyani menjadi public enemy karena kebijakannya dianggap tidak memihak rakyat. Pernyataannya sering digoreng dan menyebabkan kemarahan publik. Purbaya harus bisa lebih menata narasi dan diksinya, karena salah omong bisa menjadi bencana.
Alan Greenspan menjadi ikon pejabat keuangan paling legend dan paling lama menjabat sebagai gubernur bank sentral Amerika. Greenspan irit dan pelit bicara. Sekali bicara satu kalimat Wall Street akan bereaksi. Bicaranya pelan dan suaranya rendah. Tapi, sekali dia salah ucap pasar saham akan guncang seperti terserang sound horeg.
Purbaya juga harus mengendalikan anaknya. Ia menyebut anaknya sebagai trader kid. Boleh saja membanggakan. Tapi anak itu sudah offside dengan mengomentari Sri Mulyani dengan menyebutnya sebagai agen CIA. Sekali lagi anak ini bicara mengacau maka anak polah bapak kepradah, jabatan bapaknya menjadi taruhan.
Jangan sampai Trader Kid berubah menjadi Nepo Kids yang memicu kerusuhan seperti di Nepal. ()
Dhimam Abror Djuraid

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi