Melihat Jiwa Tampak M. Rohanudin

waktu baca 3 menit
Buku kumpulan puisi M. Rohanudin 'Bicaralah yang Baik-Baik'. (Foto : AM).

KEMPALAN : Ucapan Bapak Pelukis Modern Indonesia –S. Sudjojono (1913 – 1985)– yang senantiasa dikenang oleh para pecinta seni di Tanah Air adalah : jiwa ketok. Atau kalau di-Bahasa Indonesia-kan : jiwa tampak.

Kata-kata ‘jiwa tampak’ ini ada korelasinya dengan hal lain yang lebih punya arti. Atau boleh jadi punya nilai lebih. Apa itu?

Inilah asal mulanya : bahwa lukisan itu adalah jiwa tampak yang diperlihatkan pelukis dari karya-karyanya.

Manakala kita elaborasikan, karya apapun dalam ranah penciptaan seni misalnya, itu adalah cermin jiwa dan karakter dari penciptanya, sang seniman.

Dalam konteks perpuisian, inilah ‘jiwa tampak’ itu. Jiwa dan karakter seorang M. Rohanudin yang “dinampakkan” pada puisi-puisinya, baik yang panjang, bahkan sangat panjang; maupun puisi-puisi pendeknya, bahkan ada yang sangat pendek.

Seperti pada puisinya yang sangat panjang berjudul ‘Dari Sini Indonesia Masih Ada’ (halaman 26 – 28), maupun pada puisi terpendek ‘Magrib’ (halaman 35).

Dua puisi di atas tercantum di antara 24 puisi yang ada di buku kumpulan puisi M. Rohanudin Bicaralah yang Baik-Baik (Yayasan Pustaka Obor Indonesia – 2020, 88 halaman) ini, menunjukkan jiwa dan karakternya : humanis, relijius, dan anti penindasan.

Demikianlah jiwa dan karakter puisi-puisinya dalam buku yang dicetak dengan kemasan estetik dan artistik ini, jika dinarasikan dalam perspektif totalitas.

Namun, yang menohok dari puisi berjudul ‘Bicaralah yang Baik-Baik’ (halaman 30-31) yang dari selintas mengekspresikan adab santun itu, justru Rohan mengemasnya dengan teknik klimaks yang disajikan pada alinea (bait) pertama, yang lantas mendiskripsikannya dalam rentetan bait-bait berikutnya.

Bait itu jelasnya begini :

di hari-hari politik yang panas
kita semakin murung
merasakan Indonesia yang gelisah
Indonesia yang cemas
badannya berkeringat dan gemetar
lantaran kehilangan ruh dan energi
sibuk menepis suara-suara sumbang
tak berirama

Namun, Rohan tak sekadar menggugat, menggertak, bahkan menampar dengan kata-kata pedas, melainkan ia juga memberi peringatan yang intinya bahwa rakyat itu punya hak untuk berdaulat, sebagaimana terindikasikan pada bait berikut :

dengarkan semua:
rakyat bukan musuh,
bukan alat genderang perlawanan
rakyat adalah penentu tertinggi merajut kohesi bangsa,
kedaulatan dan kemanusiaan
bersatulah Indonesia

Buku yang sampul depan dihiasi profil wajah M. Rohanudin yang disket oleh D. Zawawi Imron, prolognya ditulis oleh penyair dan pelukis Zawawi Imron. Sedangkan epilognya ditulis oleh Acep Zamzam Noor yang juga dikenal sebagai penyair dan pelukis.

Kedua seniman ini pernah menerima SEA Write Award dari pemerintah Kerajaan Thailand.

Alhasil, menarik yang dinyatakan Berthold Damshauser pengamat sastra Indonesia dari Universitas Bonn, Jerman, yang tercetak di kover belakang :

Melalui puisi-puisi dalam buku ini penyair M. Rohanudin bukan hanya menyatakan cintanya kepada negara dan bangsa Indonesia. Ia juga menyampaikan peringatan kepada pembaca bahwa rumah bersama bernama Indonesia sedang menghadapi tantangan, bahkan ancaman yang tidak boleh disepelekan.(Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *