KEMPALAN: Amerika Serikat saat ini menghadapi kenyataan pahit: pemerintahnya membelanjakan sekitar 2 triliun dolar lebih banyak setiap tahun daripada yang berhasil dikumpulkan dari pajak dan sumber pendapatan lainnya. Kesenjangan fiskal ini bukan sekadar angka dalam laporan anggaran—ia mencerminkan sebuah kegagalan struktural dalam sistem politik dan ekonomi Amerika.
Namun, alih-alih mengakui akar masalahnya, sebagian pemimpin justru memilih menyalahkan dunia. Dalam satu momen ikonik, Presiden Donald Trump menuding negara-negara lain, khususnya Cina, sebagai penyebab utama kemunduran ekonomi AS. Padahal, masalah utamanya ada di rumah sendiri.
Logika yang Pincang: Belanja Jalan Terus, Pajak Jangan Dulu
Sistem demokrasi Amerika—yang sering dibanggakan sebagai model—ternyata terjebak dalam paradoks berbahaya. Para anggota kongres yang duduk di kursi legislatif bukanlah suara murni rakyat, melainkan hasil dari kampanye mahal yang didanai oleh segelintir orang kaya dan korporasi besar. Dan apa yang diinginkan oleh para penyandang dana ini? Pemerintahan yang royal membelanjakan, tetapi pelit memungut pajak.
Dengan begitu, politisi terus menggelontorkan dana untuk berbagai program sosial, subsidi bisnis, dan pengeluaran militer, demi menyenangkan pemilih. Namun pada saat yang sama, mereka takut menaikkan pajak terhadap orang-orang kaya yang menjadi sponsor politik mereka. Akibatnya, defisit menjadi penyakit kronis.
Dunia Dijadikan Tumbal
Ketika kondisi fiskal memburuk dan ekonomi tidak sekompetitif dulu, narasi populis pun digelorakan: “Ini semua salah Cina!”, “Perdagangan global tidak adil!”, atau “Imigran merebut pekerjaan kita!”. Retorika semacam ini bukan hanya keliru secara substansi, tetapi juga berbahaya secara sistemik. Ketika Presiden Trump mengumumkan kebijakan ekonomi yang agresif dan menyudutkan mitra dagang Amerika, pasar global bereaksi keras. Dalam dua hari, dunia kehilangan sekitar $10 triliun dalam kapitalisasi pasar—sebuah bukti nyata bahwa ketidakstabilan politik di Washington bisa mengguncang seluruh dunia.
Sudah Saatnya Jujur pada Rakyat
Yang dibutuhkan Amerika—dan dunia—bukanlah lebih banyak kambing hitam, tetapi lebih banyak kejujuran dan tanggung jawab fiskal. Pemerintah tidak bisa terus membelanjakan seperti negara kaya tanpa membayar harganya. Pajak yang adil, reformasi politik untuk membatasi pengaruh uang dalam kampanye, serta kebijakan fiskal yang berkelanjutan harus menjadi prioritas.
Karena pada akhirnya, dunia tidak bisa terus menanggung biaya dari ilusi politik Amerika.
Catatan: Dr. Kumara Adji Kusuma

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi