Sedot

waktu baca 3 menit
Truk sedot tinja (Google)

KEMPALAN : Ini cerita nyata. Yang lantas saya elaborasi dan story telling-kan di Facebook sekitar 10 tahun lalu.

Begini naskah selengkapnya, dengan sedikit penambahan dan pengurangan :

Barang cetakan apa yang paling banyak dikirim ke rumah kita? (Maksud saya bukan koran atau majalah yang mungkin kita langgani yang kita bayar secara bulanan).

Apa dong?

Mungkin brosur promosi mini market yang mengepung seputar rumah kita.

Mungkin undangan pengajian.

Mungkin undangan rapat RT.

Mungkin brosur kredit sepeda motor.

Dan sekian lagi yang biasanya diselipkan di pagar atau tergeletak di teras.

Kemarin siang ada sepeda motor melintas depan rumah saat saya siap-siap mengeluarkan kendaraan dari teras.

Sepeda motor tersebut ditunggangi dua pemuda berjaket dan berhelm teropong. Yang membonceng melempar karton kecil dan hampir saja mengenai muka saya.

Karton jatuh di depan saya.

“Oo… jadi dikirim dengan berkendara sepeda motor to… Saya pikir dengan berjalan kaki…” gumam saya. “Pantas sekarang tidak dicantelkan di ujung besi pagar…”

Karton itu berisi cetakan promosi sedot wc. Apakah kedua remaja tadi karyawan perusahaan sedot wc? Boleh jadi. Tapi boleh jadi lainnya adalah bagian dari usaha sendiri sebagai agen perusahaan tersebut, dimana semua kontak akan masuk ke HP mereka. Dan dari deal order, mereka akan terima komisi.

Kok pakai helm teropong, jangan-jangan orang jahat yang menyamar dengan kegiatan seperti itu? Saya sih kusnudzon, siapa tahu mereka mahasiswa yang lagi cari penghasilan di sela kesibukan kuliah.

Lantas kenapa pakai helm teropong? Mungkin malu kalau ketahuan temannya. Banyak lho anak muda yang gengsian.

Soal sedot wc, ingatan saya lantas melayang kepada kejadian kecil seputar 20 tahun lalu. Septictank di rumah sepertinya sudah penuh, tandanya setiap (maaf) habis pup tidak langsung lenyap di balik “leher angsa”.

Saya lantas mencari karton promosi di sekitar rak buku. Kemudian saya lakukan kontak. Cetak aos, deal! Saya ambil yang 1 meter kubik, harapannya dengan volume segitu akan tuntas. Eh lha kok masih ada sisa, sekitar sepertiga volume total.

Uang saya tidak cukup. Jadi penyedotan tidak dituntaskan. Saya pikir, yang penting sudah “plung lap!”, lancar jaya…

Salah satu kru (bukan sopir) berdiri di samping rumah mengawasi sesuatu, tidak langsung berkemas pulang.

Saya acuh tak acuh.
Lantas dengan kalem kru tadi menghampiri saya yang sedang berdiri di dekat truk sedot tinja.

“Pak, sepeda di samping rumah apa sudah tidak kepakai? “

Sepeda? Perasaan saya tidak punya sepeda. “Sepeda yang mana?”

Lantas anak muda tadi berjalan menuju halaman seuplik di samping rumah, menunjuk sepeda kecil rongsokan yang sudah teronggok bertahun-tahun di situ. Ya, sepeda salah satu anak saya saat TK. Ketika berlangsung sedot wc itu anak saya dimaksud sudah SMP.

“Oo… itu to. Kalau sampeyan minat, ambil saja…” kata saya kalem.

Ucapan saya tidak direspon kru tadi, malah meninggalkan saya menuju Pak Sopir yang sedang duduk menunggu di balik setir.

Mereka tampak berdialog. Lantas pemuda dekil itu menghampiri saya. “Pak, sepedanya saya ambil. Septictank bapak saya tuntaskan, ya…”.

Saya agak bengong. Lantas: “Gitu, ta? Boleh… Boleh… “

Deal!

Rejeki anak soleh, coy… Eh …rejeki bapak soleh …he-he-he. (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *