Tinggal Nangis Saja

waktu baca 2 menit
Salah satu spot di Makam San Diego. (Foto : Google).

KEMPALAN : Ketika sahabat lama saya Dr. Nurinwa berpulang (Al Fatihah) dan dimakamkan di San Diego sebuah kompleks pemakaman untuk strata menengah ke atas, tetiba saya teringat tulisan saya yang saya posting di Facebook sekian tahun lalu. Ada sesuatu yang menggelitik. Dan boleh jadi bernuansa humor.

Akhirnya setelah lacak sana lacak sini, ketemulah tulisan saya itu. Ini dia :

Jangankan yang hidup, yang mati saja masih digusur kuburannya. Kalau soal jenazah ditumpuk-tumpuk di makam, itu sih sudah biasa. Demikian inti dari sebuah pemberitaan yang dilaporkan surat kabar Kompas 23 September 2013.

Laporan itu menggambarkan betapa langkanya kebutuhan lahan bagi penduduk di kota besar, utamanya Jakarta. Artinya, jangankan buat yang masih hidup, yang sudah mati saja betapa sulitnya mendapatkan lahan kendati cuma “secuil” (2×1 meter).

Kelangkaan lahan makam di Jakarta, lantas dilirik oleh para pemburu peluang. Oleh sebab itu jangan heran jika di sebuah kompleks pemakaman tertulis beberapa nama di batu nisan di atas lahan-lahan yang bolong kosong seukuran 2×1 meter yang ditutup plengsengan beton tipis. Padahal nama-nama orang yang tertulis tersebut masih hidup.

Apa tidak risi yang bersangkutan lantaran namanya tertulis di batu nisan itu? “Awalnya sih memang kaget, tapi lama-lama bisa nerima juga. Kan ujung-ujungnya akan kesana juga (meninggal dunia maksudnya),” kata seseorang (namanya tidak usah disebutkan) sebagaimana dilaporkan Kompas.

Maka, jangan heran jika kawasan real estate khusus kuburan yang dibangun para pengembang di beberapa lokasi di Jakarta dan sekitarnya laris manis bak pisang goreng. Tentu saja, ini makam memang berbeda konsepnya dengan makam konvensional.

Di makam yang pemesannya kalangan menengah ke atas ini, dilengkapi dengan kolam-renang, pertokoan, balai pertemuan, restoran, dan tentu saja mobil pengangkut jenazah serta segala keperluan untuk orang-orang meninggal dan yang tidak meninggal (keluarganya) dari berbagai latar belakang agama.

Salah satunya adalah kompleks pemakaman San Diego di kawasan Karawang dekat Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Yang menarik, semua keperluan bagi yang sudah meninggal maupun bagi keluarga yang masih hidup, agar tidak merepotkan, tersedia disitu, termasuk rohaniawan dan ulama untuk mendoakan almarhum pada saat upacara pemakaman.

“Semua keperluan tersedia. Kita bikin gampanglah. Keluarga yang meninggal pokoknya tinggal nangis aja…,” tutur salah seorang pengelola sebuah pemakaman. Eladalah! (Amang Mawardi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *