KEMPALAN : Satu lagi Sufi yang banyak berpengaruh pada jalan tasawuf KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur ini adalah Jalaluddin Rumi.
Sebagaimana dipaparkan oleh KH. Syaiful Ulum Nawawi pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ibadah, Al-Baiad, Pandugo Surabaya — Jalaluddin Rumi (1207-1273 Masehi) adalah seorang penyair, filsuf, dan Sufi terkemuka dari Persia (sekarang Iran). Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Sufisme dan sastra Persia.
Rumi lahir di Balkh, Afganistan, pada tahun 1207 M. Beliau memulai pendidikannya di Balkh, kemudian melanjutkan ke Samarkand dan Baghdad untuk mempelajari filsafat, teologi, dan Sufisme.
Rumi bertemu dengan Shamsuddin Tabrizi, seorang Sufi terkemuka, yang menjadi guru spiritualnya.
Rumi menekankan pentingnya cinta dan spiritualitas dalam mencapai kesatuan dengan Tuhan.
Beliau menulis banyak puisi dan karya sastra yang indah, termasuk ‘Masnavi-e Ma’navi’ dan ‘Divan-e Shams-e Tabrizi’.
Rumi juga menulis seputar filsafat dan teologi, termasuk konsep tentang kesatuan wujud serta pentingnya spiritualitas.
Lebih lanjut dijelaskan KH. Syaiful Ulum Nawawi tentang Sufi besar Jalaluddin Rumi ini:
Bahwa beliau memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Sufisme, terutama dalam hal pengembangan konsep cinta dan spiritualitas.
Bahwa beliau juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Persia, terutama dalam hal pengembangan puisi dan sastra spiritual.
Bahwa beliau memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat dan teologi Islam, terutama dalam hal pengembangan konsep kesatuan wujud dan pentingnya spiritualitas.
Beberapa warisan Jalaluddin Rumi, dijelaskan oleh KH. Syaiful Ulum Nawawi, di antaranya :
Beliau mendirikan Mazhab Mevlevi, sebuah ordo Sufi yang masih aktif hingga saat ini.
Karya sastra beliau masih dibaca dan dipelajari hingga saat ini, tidak hanya di Iran dan Turki, tetapi juga di seluruh dunia.
Beliau memiliki pengaruh besar terhadap kebudayaan Iran, Turki, dan Islam secara umum, terutama dalam hal pengembangan spiritualitas dan kesenian. (Amang Mawardi – Bersambung).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi