
PASURUAN-KEMPALAN: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menggelar Sosialisasi Penanggulangan Bencana dengan menggandeng jurnalis Pokja Pahlawan dan Pokja Indrapura, Kamis (3/10). Acara camping yang mengambil tema “Jurnalis Tangguh Bencana’ ini digelar di K Gallery Hotel, Pandaan, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari atau hingga Jumat (4/10) ini dibuka langsung oleh Kepala BPBD Jatim Gatot Soebroto. Turut mendapingi Plt Kabid PK BPBD Jatim Dadang Iqwandy, Plt Kabid RR BPBD Jatim Dhany Aribowo, dan Penata PB Ahli Madya Sriyono. Juga pemateri, yaitu Guru Besar Unair Surabaya Prof Hotman Siahaan dan Koordinator Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim Wawan Kimiawan.
“Saya sengaja menghadirkan Pak Wawan Kimiawan dalam acara ini untuk mengajarkan surviver. Misalnya bagaimana caranya agar jika terjadi bencana bisa tahu jalan pulang, tidak sampai tersesat. Tentunya kita juga harus tahu jalur evakuasi,” kata Gatot.
Pada kesempatan tersebut Wawan juga memberikan tips bagaimana caranya memanfaatkan alam agar tidak sampai kelaparan, seperti dengan makan cacing gunung, belalang, ular atau tanaman yang ada di alam.
Termasuk mempratikkan bagaimana menyalakan api jika tidak ada korek api. “Semua ini penting saat terjadi bencana. Khususnya bagi teman-teman jurnalis,” terang Wawan.
Sementara itu Hotman Siagian memandang perlu adanya opinion leader atau orang yang menjadi tempat bertanya dan memberi keterangan, khususnya bagi wartawan yang meliput di lokasi bencana. Seperti bencana letusan Gunung Semeru, Merapi, dan lainnya.
“Ini penting agar data yang didapat benar-benar valid dan tidak liar. Misalnya berapa jumlah korban meninggal, rumah rusak, dan lain-lain. Dan ini tidak gampang, harus ada pendidikan khusus,” kata Hotman.
Dia juga menyebut bahwa seorang jurnalis memang harus punya pengetahuan luas dan harus punya spesialisasi. Tidak mungkin seorang wartawan menulis ekonomi kalau tidak punya pengetahuan tentang ekonomi. Begitu pula soal bencana, harus punya pengetahuan tentang bencana. “Karena kerja jurnalis adalah kerja intelektual dan profesional,” ujarnya.
Pakar sosiologi Unair ini juga mengungkapkan pentingnya bangunan tahan gempa di Indonesia, seperti di Jepang. Apalagi Indonesia merupakan ‘laboratorium bencana”. Karena banyaknya lempengan gunung berapi di negara ini.
“Di Jepang orang tidak panik saat terjadi gempa meskipun tinggal di rumah bertingkat 30. Karena rumahnya sudah dibangun dengan arsitektur tahan gempa,” ungkapnya.
Lain dengan orang Indonesia, mereka panik begitu terjadi gempa. Sebab gedung-gedung kita belum punya standarisasi bencana.
“Mungkin sudah ada, tapi skalanya berapa? Kalau di Jepang kan skalanya jelas. Sehingga masyarakatnya tidak panik meski ada gempa,” tambah Hotman.
Hotman juga mengungkapkan bahwa bencana Semeru dan Merapi sudah terjadi bertahun-tahun. Kendati demikian, masih saja banyak warga yang menjadi korban. Mengapa? Karena masih banyak yang belum memahami mitigasi bencana.
Untuk itu, Hotman memandang perlu adanya kurikulum tangguh bencana sejak anak duduk di bangku SD.
“Mungkin Pak Gatot selaku Kepala BPBD Jatim bisa membantu untuk mengusulkan kurikulum tangguh bencana ini,” pungkas Hotman. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi