Alumni Potensial 3-4 Tahun di Atas Saya

waktu baca 3 menit
Tahun 1976 -- Alumni saat berada di rumah dinas Drs. Adjidarma dosen AWS, di perumahan PT Panca Puji Bangun BUMD Pemprov. Jatim, ki-ka: Drs. Adjidarma, Amang Mawardi (Angkatan 1975), Retno Listyo (Angkatan 1975), Ivans Harsono (Angkatan 1975, Ketua Sema AWS), Hardjono (Angkatan 1976), Didied Wardoyo (Angkatan 1976).

KEMPALAN: Sesungguhnya tidak secara eksak –benar-benar tepat– paparan tentang 3-4 angkatan di atas saya yang potensial kiprahnya di jagad jurnalistik untuk saya sampaikan pada tulisan ini.

Misalnya tentang sosok Amak Syarifuddin. Beliau kalau tidak salah Angkatan ke-1 AWS: 1964.

Pernah menjadi wartawan majalah Sket Massa. Juga koresponden Harian Sinar Harapan, sekaligus kepala perwakilan Jawa Timur.

Pada akhirnya Amak Syarifudin menjadi dosen di AWS. Dan salah satu dosen favourite. Mengajar mata kuliah Jurnalistik Praktis. Cara mengajarnya enak, komunikatif, sesekali diselingi humor. Pernah sebagai ketua PWI Jawa Timur dua periode.

Ada lagi alumnus yang lebih 3-4 tahun di atas saya yang tercatat sebagai sosok potensial di jagad jurnalistik Jawa Timur, yaitu: Moehtar. Saat itu beliau tercatat sebagai redaktur Harian Bhirawa dan mengajar (kalau tidak salah) mata kuliah Pengantar Jurnalistik di almamater AWS. Selain itu sebagai pengurus teras PWI Jawa Timur. Hingga jelang akhir hayat beliau Pemimpin Redaksi majalah berbahasa Jawa ‘Panjebar Semangat’.

Selain Pak Amak dan Pak Moehtar, alumnus yang angkatannya 3-4 tahun jauh di atas saya adalah Farid Dimjati. Saya biasa memanggil ‘Abah Fadim’.

Selain sebagai wartawan di Harian Umum, Abah Fadim dikenal sebagai seniman. Persisnya seniman teater. Ikut mendirikan Pensiter (Penggemar Teater) Surabaya dan Teater Pentas 21.

Farid Dimjati salah satu pelopor berdirinya Dewan Kesenian Surabaya pada tahun 1972. Juga, salah satu pendukung Manikebu (Manifesto Kebudayaan) di Surabaya yang bersumber di Jakarta dengan tokoh-tokoh di antaranya HB Yasin, Wiratmo Sukito, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad. Selain itu, di Surabaya, ada nama Basoeki Rachmad dan sejumlah lainnya.

Pada akhirnya Abah Fadim “mendarat” di Humas Pemkot Surabaya setelah melaut di jagad jurnalistik dan kesenimanan. Jabatannya sebagai salah satu seksi yang berkaitan dengan kiprah wartawan.

Ada lagi yang jauh di atas angkatan saya, yaitu yang namanya saya singgung di atas: Basoeki Rachmad.

Sosok ini cenderung jadi mitos, terutama di dunia kesenimanan. Di Surabaya ada dua tokoh teater yang levelnya berada di tingkat nasional. Selain Akhudiat, ya Mas Bas ini. Selain sebagai anggota pleno Dewan Kesenian Surabaya, Basoeki Rachmad adalah pendiri Bengkel Muda Surabaya, juga Teater Surabaya. Mas Bas pernah diundang ke Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk saling berbagi ilmu teater.

Sehari-hari beliau adalah redaktur pelaksana majalah berbahasa Jawa ‘Jayabaya’. Pernah menjadi Ketua Bidang Pendidikan PWI Jawa Timur.

Dalam jagad sastra Jawa, Basoeki Rachmat dikenal sebagai penggurit dan novelis. Salah satu cerita bersambung karyanya yang banyak memikat pembaca adalah ‘Anastasia’, sebuah novel adaptasi berbahasa Jawa yang luar biasa memikatnya.

Angkatan di bawah empat nama yang saya sampaikan di atas, tercatat antara lain: Hadiaman Santoso (Sinar Harapan, Harian Surya), pernah sebagai Ketua Senat Mahasiswa AWS dan Ketua Bidang Organisasi PWI Jawa Timur; Peter A. Rohi prajurit KKO/Marinir pernah sebagai wartawan Sket Massa, koresponden Sinar Harapan dan redaktur koran sore itu, redaktur pelaksana Harian Suara Indonesia, pelaksana harian koran harian Jayakarta, wakil redaktur pelaksana Harian Surya dan sejumlah media lainnya. Sosok ini dikenal sebagai jurnalis legend karena idealisme dan berkali-kali membongkar kasus-kasus besar.

Ada lagi yang menarik dari sosok Peter A. Rohi bahwa sosok ini selama berkarier sebagai jurnalis tidak pernah menjadi anggota PWI. Jelang akhir hayat, sosok ini diberi gold card dari Dewan Pers yang diantar sendiri oleh Ketua Dewan Pers Stanley Adiprasetyo ditemani jurnalis senior M. Anis ke rumah Peter di kawasan Kampung Malang, Surabaya.Gold Card hanya diberikan kepada 100 orahg wartawan yang dinilai istimewa kiprahnya di jagad jurnalistik.

Selain Hadiaman Santoso dan Peter A. Rohi, tercatat : Zaenal Arifin Emka, Hadi Purnomo (Didit Hape), Tanjung Suparnadi, Slamet Oerip Prihadi, Sunendar, Edi Sutedjo. (Bersambung).

Amang Mawardi, penulis buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *