Mic dan Ulah Anak-Anak

waktu baca 2 menit
Ilustrasi pagelaram ludruk (*)

KEMPALAN: Dulu sekitar 30-40 tahun lalu, kesenian tradisional ludruk atau ketoprak, tumbuh dengan sehat di Kota Surabaya dan sekitarnya, terutama banyak digemari kalangan grass root yang tinggal di kawasan padat penduduk. Kalau ada yang punya hajat mengkhitankan anak atau mantenan, banyak yang nanggap ludruk atau jenis kesenian tradisi lainnya.

Suatu hari sebuah keluarga tetangga sahabat saya yang tinggal di kawasan Tambak Segaran, punya hajat mengkhitankan anaknya. Agar tampak lebih rame dan gayeng, keluarga tersebut nanggap ludruk. Pada pagi sebelum acara dimulai malam hari,  panggung sudah mulai dipasang, lantas giliran tetabuhan seperti gong, kenong, peking, kendang, dan lain sebagainya di- setting di tepi panggung, termasuk juga pemasangan sound system.

Tentu saja dulu sound system tidak secanggih sekarang. Loudspeaker bentuknya masih mirip kembang alamanda raksasa yang dipasang tinggi-tinggi pada sebuah tiang bambu. Demikian juga mic-nya masih berbentuk seperti cawan agak mengembung yang untuk menyaring suara masuk agar menjadi bening dibalut dengan kain serbet motif kotak-kotak.

Seringkali lakon yang ditampilkan pentas ludruk menyuguhkan adegan-adegan action, maka sejumlah mic yang dibungkus serbet kotak-kotak itu digantung di bagian atas panggung untuk menghindari ditabrak pemain jika diletakkan di panggung dengan cara disangga tiang-tiang besi. Demikian juga mic-mic yang dipasang di hajatan tetangga teman saya itu.

Nah, ketika mic-mic mulai digantung dan diuji-coba dengan cara standar  tes..! tes..! satu dua tiga..! satu dua tiga..! anak-anak yang berkerumun di dekat panggung mulai tidak sabar. Begitu kru teknisi turun setelah menyelesaikan  sound check, anak-anak pun menghambur berlarian naik panggung untuk ikut mencoba “mengetes” mic-mic tersebut. Tentu saja karena kepala mereka agak jauh dari letak mic yang digantung, mereka berusaha meloncat-loncat mendekati mic sambil berteriak-teriak “hallo..! hallo..!”. Kalau meloncatnya bisa mendekati mic, ucapan “hallo” bisa didengar. Kalau meleset, ya tidak terdengar. Atau bisa juga hanya terdengar “hal” atau “lo”. 

Dasar anak-anak!

(Sebagaimana diceritakan penyair *Toto Sonata* kepada: *Amang Mawardi*, penulis, tinggal di Surabaya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *