RupaPuisi: Peradaban Tubuh 1

waktu baca 4 menit
Dalam Satu Ruang Imaji 24 Des 2022 (*)

KEMPALAN: Sampai sekarang RupaPuisi dimonopoli dunia sastra. Bisa dibenarkan puisi hanya ada pada sastra. Itu realitas tidak bisa dipungkiri, memang demikian adanya. Diperjelas dengan mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi tubuh disebut sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Bicara tentang seni pada umumnya dengan unsur utama sebagai bahasa ungkap yang berbeda, apa yang dicapai oleh puisi bisa juga dicapai oleh jenis seni yang lainnya. Apakah puitis hanya sifatnya puisi – apa benar seni lain tidak bisa memiliki sifat puitis. Perlu kita ketahui yang dimaksud dengan puitis adalah memiliki sifat seperti halnya puisi. Imbuhan “tis” pada kata “puitis” memiliki arti “seperti” atau “seolah-olah.” Lebih mudahnya sifat puitis tidak hanya puisi saja. Kita sering menemui puitis di luar puisi atau sastra: Menilai seseorang itu puitis tidak lain memiliki sifat seperti halnya puisi.

Sifat puisi (puitis) juga ada dalam dunia seni lainnya. Diantara jenis-jenis seni yang ada, misalnya mengambil contoh di dunia sketsa (seni murni) juga ada yang terkesan puitis. Sketsa dengan unsur utama garis, setiap torehan garis sketsa terdorong getaran jiwa telah menyatu dengan objek, dengan sendirinya menciptakan ruang imaji. Dengan demikian sketsa itu puitis atau seperti puisi liris. Maka dari itu RupaPuisi “Peradaban Tubuh” bukan monopoli dunia sastra. Mengingat semua seni adalah ruang imaji membedah gelombang persoalan kehidupan sedang menghantam.

RupaPuisi mencoba mempertemukan seni “seperti puisi” dengan “puisi” sendiri, yaitu puisi pendek dan sketsa seperti puisi. Dalam dunia sastra, puisi pendek bentuknya sangat sederhana dibanding dengan prosa. Begitu juga dengan sketsa juga bentuknya paling sederhana dibanding dengan jenis seni rupa lainnya. Meskipun dengan kesederhanaannya itu, puisi dengan media kata dan sketsa dengan media garis juga punya perspektif tak kalah menarik dengan jenis seni lain. Masing-masing kesederhanaannya punya sayap, terbang sesuka hati di ruang angkasa seluas ruang imaji.

Bicara tentang imaji (image) dari terminologi, arti katanya adalah imitasi (meniru). Sedang dalam semiologi imaji merupakan representasi analogis, yaitu persamaan atau persesuaian antara dua benda atau berlainan. Juga kepadanan antara bentuk bahasa (misalnya: kata dan garis) menjadi dasar terjadinya bentuk lain. Membuat sesuatu yang baru dari mempertemukan puisi pendek dari dunia sastra dan sketsa dari dunia seni rupa dalam persesuaian atau kepadanan bahasa ungkap berbeda menjadi bentuk baru “RupaPuisi” berada di antara sastra dan seni rupa.

Kita paham kalau dunia imaji dibaca-tafsir secara berbeda oleh masing-masing individu. Meskipun demikian, multitafsir ini tidak bersifat anarkis. Baca tafsir sebaliknya sangat menjunjung berbagai macam ilmu pengetahuan (entah pengetahuan praktis, nasionalis, kultural, religius, etika, estetika dan lain-lainnya) yang tertanam dalam imaji. Suatu pengetahuan yang dapat diklarifikasi dan membentuk suatu tipologi bahasa ungkap atau ekspresi menurut ciri strukturnya. Bagian tersebut dalam ranah simbolik (pada bahasa) yang merumuskan dengan hal-hal praktis dan teknis. Hal inilah menjadi alasan kenapa baca-tafsir terhadap imaji bervariasi, begitu banyak terkoneksi dengan pemahaman tentang seni. Terjadi pluralitas dan keterkaitan beberapa leksikon bisa jadi ada atau mengedepankan satu objek yang sama berbentuk gaya bahasa personal yang khas.

Terjadinya multi tafsir dalam bahasa imaji bukan berarti ancaman terhadap keutuhan, karena bahasa yang terkandung dalam imaji sendiri terbentuk oleh gaya bahasa personal, leksikon dan sistem pemaknaan sampai menembus berlapis-lapis di kedalaman bahasa lubuk hati yang jelas. Serta membuka diri dengan berbagai kemungkinan dalam pemaknaan.

Bersedianya membuka diri mendapatkan berbagai kemungkinan dari seni dalam satu ruang imaji tentang tubuh di tengah perkembangan peradaban. Tentunya RupaSeni menciptakan integritas bahasa imaji atas dasar niatan dan berbagai pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki. Menjadi ruang dialog imaji tubuh yang hidup dinamis dan inspiratif, yaitu peradaban tubuh sumbangsih terhadap pembangunan di sebuah rezim.

(*) Saiful Hadjar, Budayawan, tinggal di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *