Kamis, 23 April 2026, pukul : 19:52 WIB
Surabaya
--°C

Anies dan Erdogan

KEMPALAN: Recep Tayyip Erdogan memenangkan pemilu presiden putaran kedua di Turki, Minggu (28/5). Erdogan menang dengan mengumpulkan suara 52,14 persen dibanding lawannya Kemal Kiricdaroglu 47,86 persen. Pemilihan dilakukan dua putaran karena pada putaran pertama tidak ada kandidat yang mencapai 50 persen plus. Erdogan menjadi juara pada putaran pertama dengan suara 49,5 persen dan Kiricdaroglu 44,9 persen.

Di Indonesia kemenangan Erdogan memunculkan harapan akan terjadinya ‘’Erdogan Effect’’ yaitu bangkitnya politik Islam. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendukung Anies Baswedan berharap tuah positif dari kemenangan Erdogan bisa terjadi di Indonesia. Tetapi, citra Erdogan yang negatif di mata media Barat membuat pendukung Anies harus berhati-hati untuk mengasosiasikannya dengan Erdogan.

Pemilu Turki kali ini menjadi pemilu yang paling keras dan ketat, karena semua kelompok oposisi berkoalisi untuk mengalahkan Erdogan. Pemilu ini juga banyak memunculkan cawe-cawe politik karena ada intervensi dari Barat yang tidak menginginkan Erdogan untuk menang. Hal itu tercermin dalam pemberitaan media Barat yang menggambarkan Erdogan sebagai sosok otoriter dan opresif yang harus digulingkan.

Erdogan digambarkan sebagai pemimpin yang ekspansionis yang berambisi membangkitkan kembali kekuasan global Turki seperti yang terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Utsmaniyah pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Erdogan disamakan dengan Presiden Vladimir Putin dari Rusia yang juga dipotret sebagai pemimpin otoriter yang ingin membangkitkan kembali imperium Rusia.

Kekuatan Barat tidak menghendaki Erdogan berkuasa lagi dan lebih mendukung Kemal Kircdaroglu untuk menjadi pemimpin Turki. Kiricdaroglu mewakili koalisi liberal yang pro-Barat. Kelompok ini menjadi musuh utama Erdogan yang mewakili kubu nasionalis-Islam yang lebih independen terhadap Barat.

Media-media Barat memotret pemilihan presiden Turki sebagai perebutan kekuasaan antara pemimpin despotik melawan oposisi yang demokratis. Media-media mainstream besar Barat seperti The Economist, Der Spiegel, Le Point, dan media besar lainnya secara terang-terangan menyerang Erdogan dengan memotretnya sebagai diktator.

Salah satu cover depan edisi The Economist menggambarkan sosok Erdogan yang sedang duduk di singgasana yang sudah agak reyot, dan ada lambang bulan sabit yang retak di pucuk singgasana. Majalah terkemuka ini menunjukkan bahwa Erdogan ingin membangkitkan kembali imperium Turki yang pernah menjadi super power dunia. The Economist juga mengungkap tindakan represif Erdogan terhadap kalangan oposisi dan jurnalis yang kritis terhadapnya.

David Hearst jurnalis senior pemimpin redaksi Middle East Eye mengecam kampanye negatif media Barat dan menganggapnya bias karena tidak berimbang dan terlalu memojokkan Erdogan. Banyak pemimpin di Timur Tengah yang represif dan opresif terhadap oposisi dan jurnalis, tetapi tidak mendapatkan sorotan yang kritis dari media Barat.

Arab Saudi di bawah kepemimpinan Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) melakukan represi terhadap oposisi dan berada di balik pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Mesir di bawah Presiden Abdul Fatah Al-Sisi juga bertindak opresif terhadap oposisi dengan memenjarakan ribuan oposisi dalam kondisi yang sangat buruk. Al-Sisi mengeluarkan daftar 80 organisasi dan perorangan yang dianggap sebagai teroris, dan banyak di antaranya adalah jurnalis yang kritis terhadap rezim.

Kendati demikian, tidak ada liputan yang kritis dari media Barat terhadap rezim di dua negara itu, karena dua negara itu dikenal sebagai sekutu dekat Barat. Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada saat masa kampanye mengatakan akan mengasingkan Arab Saudi karena rekor hak asasinya yang buruk. Tetapi, Biden menjilat ludah dan mengunjungi Arab Saudi dan berunding dengan MBS.

Persaingan Erdogan vs Kiricdaroglu memang sangat keras. Pemilu kali ini dianggap yang paling sengit sehingga masyarakat terpecah. Pemilu Turki kali ini adalah pertarungan identitas antara politik Islam yang ingin melawan hegemoni Barat, melawan politik liberal yang ingin mengembalikan Turki sebagai bagian dari Barat.

Erdogan berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena kebijakan ekonominya dianggap salah dan menyebabkan inflasi tinggi dan pengangguran meluas. Erdogan gagal menangani bencana gempa bumi besar pada Februari lalu, yang menyebabkan korban tewas sampai 50 ribu jiwa. Dengan dua rapor merah itu oposisi yakin bisa mendongkel Erdogan.

Analis politik dan media liberal Turki mengeluarkan berbagai survei yang menyebutkan kekuasaan Erdogan bakal berakhir. Jajak pendapat dari berbagai lembaga survei, selama beberapa pekan menunjukkan Kilicdaroglu lebih unggul dibandingkan Erdogan. Ini dipublikasikan seiring dengan kencangnya persepsi popularitas Erdogan tergerus tingginya inflasi dan melonjaknya biaya hidup. Salah satu lembaga survei bahkan menyebutkan Kiricdaroglu akan menang satu putaran. Ternyata semua ramalan itu meleset.

Melihat kenyataan ini jurnalis David Hearst menyimpulkan bahwa Erdogan tidak disukai oleh Barat bukan karena ia otoriter dan tidak demokratis. Erdogan tidak disukai karena dia pemimpin yang idependen dan tidak bisa disetir oleh kepentingan luar. Erdogan bukan pemimpin tipe Mr Yesman, Pak Turut, yang hanya menjadi boneka kekuasaan.

Erdogan effect menjalar ke berbagai belahan dunia Islam, termasuk Indonesia. Hal yang sama terjadi ketika Datuk Anwar Ibrahim terpilih sebagai perdana menteri Malaysia 2022 yang lalu. Ada gelombang Anwar Ibrahim effect yang diharapkan menjadi tonggak kebangkitan politik Islam yang toleran tetapi independen.

Isu independensi dalam pemilu presiden Indonesia 2024 menjadi perdebatan panas. Ada calon-calon presiden yang dianggap tidak independen karena menjadi petugas partai, atau menjadi penerus petahana. Ada juga calon presiden yang independen, tidak menjadi boneka, dan menjanjikan perubahan.

Akankah pendukung Anies mengharapkan Erdogan Effect? Sangat mungkin. ()

chat 1 Chat

  1. Arif

    90% RI MUSLIM .PRESIDEN HARUS ISLAM .BUKAN MUNA

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.