SURABAYA-KEMPALAN: Pengamat Musik Tradisi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Suwarmin mengatakan pemahaman musik tradisional pentatonik di jenjang Sekolah Dasar (SD) perlu dioptimalkan.
“Ada kecenderungan peserta didik SD sekarang ini kurang mengenal nada-nada pentatonik atau pada musik tradisi gamelan pelog-slendro.’ ungkap Suwarmin (27/5).
Suwarmin yang mengajar mata kuliah Etika dan Filsafat musik menambahkan, peserta didik sekarang ini lebih mengenal musik diatonik yang berkaitan dengan musik pop dan dangdut.
‘’Anak-anak sekarang lebih mengenal musik dangdut dan koplo ketimbang gamelan tradisional.’’ tambahnya.
Menurut Suwarmin, di lembaga pendidikan jenjang SD tidak semua memiliki guru ekstra seni budaya karawitan, sehingga pengembangan dan pemahaman musik tradisi termasuk pengenalan pelog-slendro terkesan kurang optimal.
“Dulu ketika ada PPST pengajaran seni tradisi termasuk karawitan dilakukan secara aktif, termasuk menyediakan perlengkapan gamelan.’ imbuh Suwarmin.
Pendidikan PPST ini tidak hanya dilakukan jenjang SD saja namun juga ke jenjang SMP dan SMA. Sekolah yang tergabung dalam PPST baik jenjang SD maupun SMP SMA tidak hanya memiliki pelatih seni tradisi tapi juga perangkat musik tradisi seperti gamelan.
“Rata-rata Sekolah yang ikut PPST memiliki perangkat gamelan, meskipun tidak semuanya.’’ tambahnya.
Dalam pandangan Suwarmin yang alumni STKI Surakarta era 80 an, pengembangan dan pengenalan musik tradisi di jenjang SD harus diupayakan secara serius karena musik tradisi merupakan warisan leluhur yang bersifat adiluhung. Musik karawitan juga memiliki nilai-nilai filosofi yang tinggi dan sangat diminati orang mancanegara.
“Warga negara Eropa dan Amerika banyak yang menyukai musik karawitan. Bagi kawula muda silahkan menyenangi musik barat dan K-Pop, tapi jangan lupakan kekayaan budaya bangsa yang rentan dikembangkan bangsa lain.” tandas Suwarmin yang sering menjadi narasumber berbagai kegiatan work shop musik tradisi.
Suwarmin memberikan solusi agar pengenalan dan pemahaman seni musik tradisi di jenjang SD bisa optimal. Menurutnya, pendidik dituntut kreatif, di samping aktif berkonsultasi dengan para pelaku seni tradisi juga mengajak peserta didiknya berkunjung ke sanggar seni atau lembaga kesenian yang memiliki perangkat gamelan.
“Semisal di kantor Dikbud ada segera seperangkat gamelan diajak peserta didiknya melihat dari dekat keberadaan gamelan, jadi selain diterangkan dari buku juga bisa langsung melihat bedanya.’ pungkas Suwarmin.
(kris maryono)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi