Memenangkan Anies dengan Doa dan Aksi Nyata

waktu baca 4 menit

Oleh: Isa Ansori (Pekolom, Akademisi)

KEMPALAN: Kalau boleh dibilang, orang yang paling didengar doanya oleh Allah adalah doa para Nabi. Lalu apakah para Nabi itu berdiam dan berdoa ketika menghadapi kedzaliman? Tentu saja tidak.

Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi kedzaliman bangsa Quraisy, beliau diutus oleh Allah berdakwah tentang kebenaran, dengan harapan masyarakat Quraisy bisa menyadari apa yang dilakukan itu salah. Bagi yang sadar dan menerima, maka Nabi melindungi dan memperlakukan sebagaimana saudara. Bagi yang melawan dan memerangi, Nabi pun juga tak berdiam diri, Nabi diperintah untuk menghindari dan menyusun strategi untuk kembali memerangi. Karena dengan memerangi maka akan ada harapan untuk mengalahkan, Nabi tidak hanya berdoa, Nabi juga memerangi mereka.

Dalam kehidupan, kita selalu diajarkan mau belajar dari pengalaman atau tidak. Kalau pengalaman yang kita dapatkan adalah pengalaman baik, maka bagaimana kita meningkatkan kualitas kebaikan itu, sebaliknya bila itu pengalaman tidak baik, maka yang kita lakukan adalah bagaimana mengantisipasi agar hal tidak baik itu tidak terulang lagi. Hanya keledai yang bodoh yang sampai terjerembab pada lubang yang sama sampai dua kali.

Pengalaman pilpres 2019 adalah pelajaran demokrasi yang sangat mahal, euforia permukaan seolah olah menang tapi pada kenyataannya calon yang digadang – gadang kalah. Apa yang terjadi, kepanikan dan kemudian para pendukung Prabowo saling menyalahkan. Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang saat itu para pendukung Prabowo tidak menyiapkan antisipasi keyakinan menang, sehingga kedodoran di sidang MK.

Pemilu adalah persoalan data suara, sehingga energi untuk mendapatkan suara dan menjaga suara yang sudah diperoleh perlu disiapkan. Tentu ini bukanlah hal yang mudah, apalagi kekuatan lawan tidak terbatas, uang punya, jaringan sudah terbentuk, instrumen hukum sudah disiapkan bila terjadi sengketa, organisasi rapi dan pendeknya semua sudah tertata dan dipersiapkan untuk menang.

Pesan Sayyidina Ali, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir. Nah sudahkan Anda para pendukung Anies membuat jaringan pemenangan yang terorganisir, kalau tidak maka bukan tidak mungkin pengalaman pahit 2019 akan terulang lagi.

Saya ingin mengutip tulisan dari sahabat relawan Kahar Mudakir yang mengingatkan para pendukung Anies agar kebenaran yang mereka yakini dilakukan secara terorganisir, dengan begitu calon mereka akan bisa menang. Beliau mengingatkan melalui tulisannya bahwa paska penetapan Ganjar sebagai presiden oleh PDIP, dan survey Ganjar dikabarkan unggul, namun sayangnya tidak ada aksi apapun dari relawan Anies untuk melakukan aksi meningkatkan popularitas Anies, misalkan membuat aksi aksi yang layak publikasi dan diterima oleh masyarakat, relawan Anies hanya ramai pada saat Anies hadir, saat tidak ada, relawan Anies kehilangan gairah, kecuali hanya ramai di group WA, itupun WA sendiri, jago kandang.

Untuk itu beliau menekankan apakah anda sebagai relawan memang betul betul serius memenangkan Anies, atau seolah olah serius ketika ada acara kedatangan Anies. Beliau mengajukan tiga pertanyaan sederhana sebagai uji hipotesanya :

  1. Apa yang sudah Anda lakukan kepada rakyat pemilih di desa Anda?
  2. Berapa jumlah TPS di desa Anda?
  3. Sudahkah alAnda membentuk dan mengumpulkan relawan Anies di desa Anda?

Jika pertanyaan 1 sampai 3 jawaban anda, belum dan tidak tahu, maka tidak usah mimpi Anies menang dan jangan mudah menyalahkan dan menuduh orang lain berbuat curang, apalagi kita belum menyiapkan kemenangan untuk Anies.

Saran bang Kahar Mudakir, bentuklah group WA, bentuklah Kordes, siapkan relawan di TPS dan jangan lupa siapkan rumah logistik untuk saksi dan relawan di TPS, hari H pilpres.

Bang Kahar menekankan ayo kita siapkan tiga pertanyaan tersebut di desa desa, kampung kampung kita.

Kolaborasi dan kerjasama semua relawan adalah sebuah keniscayaan untuk membangun jalan kemenangan. Sudah saatnya semua yang menegaskan diri sebagai simpul relawan agar membuka diri, saling menerima dan menjauhkan dari sikap egois, sikap paling bisa dan paling hebat.

Bagi saya Pilpres dan pemilu adalah pertarungan strategi memenangkan sesuatu yang menjadi fakta, jumlah suara, terlepas bagaimana cara mendapatkan suara itu.

Nah kalau anda ingin memenangkan Anies tidak cukup hanya dengan memanjatkan doa, tapi harus menyiapkan instrumen untuk menang. Jadi memenangkan Anies tidak cukup hanya dengan berdoa, tapi kerja nyata yang terorganisir. Kolaborasi antar simpul relawan, saling menguatkan dan melengkapi, serta bahu membahu dengan partai politik pengusung dan pendukung. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *