Hindari Hal-Hal yang Mengurangi Manfaat Bukber

waktu baca 4 menit
Ilustrasi Berbuka bersama. (ist)

Oleh: Dr. Ade Tuti Turistiati, MIRHRM
Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Purwokerto

KEMPALAN: Larangan untuk menggelar buka puasa bersama bagi pejabat dan ASN yang diatur dalam Surat Sekretaris Kabinet Nomor 38/Seskab/DKK/03/2023 menuai pro-kontra.

Yang pro cenderung para pejabat yang bisa jadi khawatir terkena sanksi dan sebagian masyarakat yang mensinyalir bukber hanya ajang menunjukkan kemewahan. Yang kontra punya alasan kuat bahwa bukber tidak perlu dilarang karena merupakan media silaturahmi, bentuk kepedulian terhadap sesama, kebersamaan, dan hal-hal positif lainnya. Selain itu, larangan bukber bisa jadi berdampak mengurangi potensi penghasilan para penyedia catering, pengusaha restoran, dan gedung pertemuan.

Kebijakan tersebut tidak hanya tak disetujui oleh kaum muslimin yang berkepentingan terhadap tradisi buka bersama, tetapi juga kaum Kristiani. Ada kekhawatiran bahwa larangan buka bersama dengan dalih Indonesia masih dalam transisi dari pandemi ke endemi menjalar ke larangan perayaan agama lainnya seperti paskah.

Din Syamsuddin mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI bahkan menilai kebijakan larangan buka puasa bersama tidak bijak dimunculkan secara terbuka di tengah umat Islam yang sedang menjalani ibadah Ramadhan.

Bukber sejatinya suatu tradisi positif. Kegiatan ini menjadi bagian dari bulan suci Ramadan di Indonesia, yang dilakukan oleh beragam kelompok. Misalnya, diselenggarakan oleh keluarga besar, alumni, teman sekolah, teman kuliah, teman sekantor, teman organisasi, dan lain-lain. Acara bukber tidak sekadar makan bersama, namun juga dijadikan sebagai momen silaturahmi, komunikasi langsung antarpribadi, dan lainnya.

Namun, pelaksanaan bukber yang seharusnya menambah nilai pahala puasa jangan sampai tergelincir justru sebaliknya. Beberapa hal yang dapat mengurangi manfaat bukber di antaranya:

  1. Bukber dijadikan ajang unjuk kemewahan.
  2. Waktu menunggu saat berbuka diisi dengan kegiatan senda gurau, mengobrol yang kurang atau bahkan tidak manfaat seperti berghibah.
  3. Tidak segera berbuka puasa (membatalkan puasa) karena kadang-kadang untuk mendapatkan minuman/makanan harus antre terlebih dahulu.
  4. Meninggalkan shalat Maghrib dengan berbagai alasan. Jika bukber diadakan di rumah makan, kadang-kadang pihak restoran hanya menyediakan mushola kecil sehingga untuk shalat harus antri. Alih-alih shalat Maghrib berjamaah, malah berdalih dalam kondisi emergency sehingga shalat Maghrib dilewatkan.
  5. Shalat Tarawih berjemaah berpotensi ditinggalkan terutama jika bukber dilakukan di rumah makan yang tidak menyediakan tempat untuk sembahyang.
  6. Makanan yang disediakan untuk bukber biasanya beraneka macam mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup. Ketika perut lapar, makanan dan minuman yang terlihat mata nampak enak rasanya. Dari mata turun ke tangan. Makanan itu pun dikumpulkan. Dalam hitungan menit, aneka makanan dan minuman itu sudah berpindah domisili. Lambung menjadi saksi. Namun, tak sedikit yang pada akhirnya karena perut kekenyangan, makanan pun tak dihabiskan.
  7. Makanan yang tak dihabiskan dibuang. Hal ini terjadi tidak hanya pada saat bukber tetapi juga pada berbagai acara seperti perayaan pernikahan, selamatan, dll. Berdasarkan “Food Sustainable Index” (2018) terbitan The Economist Intellegent Unit bersama Barilla Center for Food and Nutrition Foundation, Indonesia menempati urutan kedua di dunia perkara sampah pangan.

Mirisnya, masih banyak orang yang susah mencari sesuap nasi, namun di sisi lain sisa-sisa makanan dan minuman seringkali berakhir di tempat sampah.
Kita tidak dapat mengontrol selera dan perut orang lain, maka mulailah dari diri sendiri. Yang lebih tahu tentang kapasitas perut kita adalah kita sendiri.

Kita dapat belajar dari pengalaman mengenai perkiraan perut mendekati kenyang. Tahan godaan lapar mata. Nikmati apa yang kita makan. Tidak terburu-buru seperti orang takut kehabisan. Ingat lambung penerima makanan hanya berukuran sekepelan tangan. Ketika kita kekenyangan badan kita merasa bega dan tidak nyaman. Jangan sampai keluar dari mulut kita seperti nada penyesalan “Duh, kekenyangan”.

Bandingkan jika kita spontan menyatakan “Alhamdulillah kenyang”. Artinya kita sudah cukup kenyang untuk tidak melajutkan makan. Sebaiknya, berhentilah sebelum kenyang!”

Mengingatkan untuk menghindari hal-hal yang dapat mengurangi manfaat bukber tentu tidak perlu dibuat Surat Keputusan. Ketimbang melarang bukber lebih baik mengingatkan agar menjauhi hal-hal yang berpotensi mengurangi nilai positif dan pahala bukber. Anda mau bukber? Jalani dengan niat suci dan mendekatkan diri pada Ilahi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *