Puisi-Puisi Minggu Ini, Agus R Subagyo (SANREGO)

waktu baca 2 menit
Agus R. Subagyo ketika baca puisi di Rumah Budaya Kalimasada Blitar. (Foto: AmAm)

KEMPALAN: Melengkapi ulasan pendek tentang tokoh sastra Minggu ini, saya sertakan puisi-puisi sang penyair Agus R Subagyo yang juga teatrawan itu. Petani yang tetap setia menulis puisi. Berikut ini, puisi-puisinya. Salam sastra!

Agus R Subagyo yang San Rego itu.

Agus R. Subagyo
MUSIM BELATUNG

Masih tetap sama
Walau banyak yang tak kukenali
Riuh dan gemuruh raung rayap besi
Berebut sentuh gendang telinga

Mendung menggantung
Siap mengguyur
Merontokkan ribuan belatung
Di nanar pandang yang memar

Belatung tersenyum getir
Membayang dirinya hanyut dan terlindas
mimpi terbangnya kandas
berakhir di got dan selokan
Juga di sela dan celah ukiran roda

Musim belatung musim mimpi
Musim janji dan jual beli
Tanpa wujud tanpa isi
melukis tragedi

Balai Pemuda Surabaya, 21-02-2018/15:51

*

Agus R. Subagyo
ILALANG, ADA APA DI SANA

Wahai ilalang yang tumbuh di belukar,
kenapa kau diam?
Termenung ataukah berdoa!
Hingga sunyi di cakrawala
Kemana koar mu yang dulu kudengar
Seperti binar Ken Dedes dari Polowijen,
juga diamnya Helen dari Troya

Wahai ilalang yang tumbuh di belukar
Mengapa tak kau angkat mukamu
Menatap langit-langit kalbu,
adakah sembilu di jantungmu

Wahai ilalang yang tumbuh di belukar
Rentangkan sayap rajawalimu,
terbanglah lewati hampar galaksi
tembus pintu surga,
lihat ada apa di sana?
Adakah sungai susu mengalir
dan bidadari yang menari menyanyi di taman firdaus?

Ya ada apa di sana lalu kabari aku.

Nganjuk, 07-01-2004

*

Agus R. Subagyo
UMA

Sua adalah ingin yang menggelayut
Menggiring rindu yang lama menunggu
Rasa jumpalitan di kelam langit
Menunggu temu melunaskan rindu

Uma…
Rasa tetap gempita
Meniti tubuh hari
Mengarungi pekat malam
Menjelajahi panggang siang
Mencipta senyum pagi

Uma…
Rasa ini melenting
Tak berirama.
Menunggu kau tata nada-nada
Menjadi lagu
Mendendangkan jiwa

Uma…
Pada tanah aku bermunajah
Pada langit aku mewirid
Pada air aku lantunkan syair
Pada api aku menawar puisi

Uma…
Doa terus kularung untukmu
Di sajadah subuh
Di altar dhuhur
Di selasar asyar
Di sengit maghrib
Di belanga isya
Di semua waktu yang berdetak

Uma…
Aku menulis ini untuk menandai
Lengking pertama
Suaramu menggetarkan langit.

Rumah Ilalang, 18-04-2020/12:34

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *