Ayat Sandera

waktu baca 12 menit
Pilot Susi Air Beri Pesan Melalui OPM: Saya Ditangkap untuk Papua Merdeka, Begini Kondisinya Terkin. Foto: Tangkapan layar YouTube The Times and The Sunday Times

KEMPALAN: MESTINYA tidak sulit bagi TNI untuk membebaskan pilot Susi Air yang disandera di pedalaman Papua 10 hari lalu. Tapi TNI masih memberikan kelonggaran waktu untuk upaya non-militer. Bupati Nduga Namia Gwijangge masih melakukan upaya itu. Ia yakin masih bisa ”merayu” para penyandera. Ia yakin pilot Philip Max Marthens yang berkebangsaan Selandia Baru itu bisa dibebaskan tanpa serbuan militer.

Penyanderaan memang sudah berlangsung sejak 7 Februari lalu. Yakni sejak pilot tersebut mendaratkan pesawat di bandara kecil Paro, Kabupaten Nduga.

Lima penumpangnya, semua penduduk asli setempat, aman-aman saja. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Tapi pilot Philip disandera. Dan pesawat Susi Air jenis Caravan dibakar.

Bandara di daerah kecil nan terpencil seperti Paro memang tidak bisa disebut bandara (airport). Dalam bahasa Inggris lebih tepat disebut airstrip. Hanya ada landasan pendek dan bangunan sederhana sebagai terminalnya.

Toleransi waktu itu diberikan, toh diyakini nyawa Philip tidak dalam kondisi terancam. Penyandera berkepentingan untuk menjaga keselamatan Philip. Bahkan memanfaatkannya. Termasuk, ujar penyandera, diminta melatih menerbangkan pesawat.

Itu seperti yang dikatakan juru bicara mereka di berbagai media, tanpa logika yang memadai.

Toleransi itu tentu ada batasnya. Terlalu lama penyanderaan berlangsung bisa merusak Indonesia di dunia internasional. Seolah Indonesia tidak mampu menjaga wilayah kedaulatan. Publikasi penyandera juga bisa kian luas. Misalnya saja mereka bisa mengunggah video ke YouTube dan bicara apa saja di situ. Seperti yang sudah dilakukan mereka. Di video itu Philip terlihat aman di tengah mereka yang bersenjata. Tidak ada ekspresi ketakutan.

Memang Philip dimanfaatkan untuk mengucapkan kata-kata yang mereka inginkan. Tapi Philip terlihat taktis. Misalnya, ia terlihat hanya ikut kata-kata yang didiktekan oleh salah satu penyandera.

Susi Air memang memilih pilot asing untuk menerbangkan Caravan di berbagai wilayah pedalaman. Mulai di Kalimantan, Sumatera sampai Papua.

Kalau Anda ke markas pusat Susi Air di dekat pantai Pangandaran, di situ sering terlihat orang bule. Muda-muda. Tinggi-ganteng. Itulah pilot Susi Air.

Fasilitas latihan pilot pun ada di Pangandaran. Ada kokpit simulator di sana. Juga ada landasan untuk mendarat dan terbangnya pesawat Caravan. Landasan itu hanya berupa lapangan rumput.

Para pilot itu umumnya warga Australia atau Selandia Baru. Mereka adalah pilot yang masih berkepentingan untuk menambah jam terbang. Mereka juga mau mengerjakan apa saja secara sendirian. Tidak hanya pekerjaan pilot. Juga pekerjaan pramugari dan pembersihan pesawat. Tanpa protes.

Pesawat Caravan memang kecil. Berisi 12 penumpang. Di dalam negeri sulit mendapatkan seorang pilot yang mau mengerjakan semua pekerjaan seorang diri seperti itu.

Bandara Paro sendiri berada di satu distrik di Kabupaten Nduga. Kini Nduga masuk provinsi Papua Pegunungan. Anda sudah tahu: sejak November lalu provinsi Papua dipecah: Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Dengan demikian kini ada 5 provinsi di Papua: Papua Barat sudah lebih dulu terpisah.

Ibu kota provinsi Papua Pegunungan ini adalah kota Wamena. Distrik Paro jauh sekali di bagian barat provinsi. Berbatasan dengan Papua Barat.

Pemerintah Presiden Jokowi merencanakan membangun jalan dari Paro ke Wamena. Lewat gunung-gunung tinggi yang sulit. Lantas pemerintah juga merencanakan membangun pelabuhan ? dekat Paro. Yakni pelabuhan Mumugu. Itu pelabuhan sungai. Di tepian sungai Pomats.

Anda juga sudah tahu: Sungai Pomats bermuara di sungai Lorentz. Pomats dan Lorentz bertemu di pantai laut Arafuru: di tengah-tengah antara Timika dan Merauke.

Pelayaran dari muara ini, ke pelabuhan baru Mumugu, mungkin perlu waktu dua harmal. Jauh sekali. Pakai kapal kecil. Melewati sungai Pomats yang besar, panjang dan sunyi.

Tapi hanya jalan inilah kemungkinan terbaik saatnya ini. Untuk bisa mengirim barang ke pegunungan tengah Papua: ke Wamena dan sekitarnya.

Barang dari Jawa dikirim ke pelabuhan Sorong atau Timika. Lalu dipindah ke kapal kecil. Dibawa menyusuri pantai Papua lalu masuk ke sungai Pomats yang sunyi. Dua harmal kemudian sampailah barang itu ke pelabuhan Mumugu.

Lalu, kalau jalan darat menuju Wamena sudah jadi, barang itu dikirim pakai truk sampai ke Wamena.

Jalan yang masih harus dibangun adalah yang membelah Kabupaten Nduga ini saja. Dari bagian timur Nduga ke Wamena sudah ada jalan. Mobil tertentu sudah bisa lewat: 6 jam. Itu dialami sendiri oleh Sahabat Disway di Wamena. Ia menuju Distrik Mbua di kabupaten Nduga Timur.

Tapi dari Nduga bagian timur ke Nduga bagian barat masih harus jalan kaki: dua harmal. Berarti kalau kelak ada jalan mungkin bisa ditempuh dalam lima jam saja. Total, dari pelabuhan baru pinggir sungai ke Wamena bisa 12 jam.

Pasukan Marinir sudah hafal dengan pelayaran di sungai Pomats ini. Ada ekspedisi reguler TNI-AL di sungai ini. Dari muara ke hulu. Dari hulu ke muara.

Misalnya yang dilakukan Satgas Muara Perairan Yonif 3 Marinir Pasmar 2 tahun lalu. Ada pos TNI-AL di pedalaman sungai itu. Yakni Pos Quary Bawah, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga. Di sini pula dua anggota TNI-AL tewas tahun lalu: Letda Marinir Muhammad Ikbal dan Pratu Marinir Wilson Anderson Here.

Pos itu tidak terlalu jauh dari bandara Paro. TNI sangat menguasai wilayah ini. Hanya saja TNI masih memberi kesempatan kepada Bupati Dwijangge untuk menjalin kontak dengan penyandera.

Rupanya bupati mengenal mereka. Bupati juga tahu sifat-sifat mereka. Belum tentu pula motif penyanderaan itu untuk kepentingan politik merdeka. Memang yang disuarakan soal itu tapi ini bisa saja mirip parpol yang membawakan ayat-ayat agama untuk kepentingan partai.

Karena itu respons dunia internasional juga sangat minim. Selandia Baru sendiri menganggap ini urusan intern Indonesia. Sikap Selandia Baru jelas: mendukung Indonesia.

Maka kalau mereka langsung diserbu dan dimusnahkan, bisa jadi justru negatif di mata internasional. Tapi kalau dibiarkan berlarut juga merugikan.

TNI tahu kapan harus memainkan perannya. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 17 Februari 2023: Eliezer Kapok

Otong Sutisna

Tersalip di tikungan akhir untuk dapat pertalite.

bagus aryo sutikno

Di Hollywood akan tayang film berjudul RISE of SAMBO, from hero to zero and rise up again. Itu kisah setelah Sambo dipenjara 5 tahun, ternyata doi malah menata ulang kingdomnya. Kian moncer dengan perjudian slot tertata rapi hingga ke millenial gen Z. Coba klik Hollywood. Ini Hollywood bagian Sidotopo lurr bukan sing LA.

Multi Suk

jika melihat tidak adanya kemauan pemerintah membongkar korupsi, rasanya tidak akan ada JC selama pemerintahan dikuasai oleh partai sang juara korupsi (lihat persentase korupsi di Google). apalagi sejak awal berkuasa yang digebuk duluan adalah KPK era abraham samad, sesudahnya pun malah dibuat KPK seperti polisi bagian korupsi yang gebrakannya malah mundur terbukti koruptor harun masiku bisa gak ketemu-ketemu sampai sekarang padahal dengan canggihnya alat sekarang hewan yang gak punya sinyal HP saja bisa ketemu ini kok manusia bisa raib.

ALI FAUZI

Pak DIS menulis, penegak hukum (di Indonesia) sering mengalami kesulitan membongkar sebuah jaringan korupsi. Lebih sulit lagi: Menemukan dalangnya. Saya jauh lebih percaya pada adagium ini: “Kalau ada kemauan pasti ada seribu jalan, kalau tidak ada kemauan mencari seribu alasan”.

Mbah Mars

Di mana ada kemaluan di situ ada kemauan. Wakakaka…pisssss. Kabooorrrrrrr.

Jimmy Marta

@Cak Aryo. Jangan ngomong rubrik khusus… itu membuka luka yg belum brp lama… hiks. *perusuhway. @Bli LP. Kalo cuma 5, niscaya banyak yg kuciwa…haha. Tp bisa jg ya bli, misale : Dua komen cerdas sesuai topik. Satu komen lucu menarik. Satu komen Out of topic. Satu lg…?mmh terserah pak bos ajalah. @Mbah M. Juragan disway itu memang pintar. Jago main aman…

Er Gham

Walau ekonomi sulit, penjualan mobil mewah di Indonesia terus meningkat. ATPM tetap optimis. Target penjualan terus tercapai. Mungkin karena sebagiannya dibeli dari hasil ‘you know lah..’. Dari hasil keringat maksudnya. Keringat orang lain.

Agus Suryono

JANGAN LUPAKAN PERAN PAK MAHFUD MD.. Peran belio besar sekali. Paling tidak dua kali belio bisa mengarahkan kembali “arus yang hampir bengkok”, dua kali. 1). PERTAMA. Saat arah angin pengungkapan terjebak oleh rekayasa Sambo. Bahkan sampai pejabat Kompolnas, pak Beni Mamoto ikut tergelincir mengikuti skenario Sambo. Tapi belio berhasil mendorong pengungkapan kembali ke “rel” yang benar. Antara lain dengan, penyidik pun akhirnya LEBIH PERCAYA kesaksian Eliezer “tahap dua”.
2). KEDUA. Saat menjelang vonis. Beliau ungkapkan, atau VIRALKAN, adanya tekanan ke Hakim oleh seorang Brigadir Jenderal (Brigjen). Sehingga, sang Brigjen ketakutan, dan mundur teratur.. #bagaimana menurut Anda?

Macca Madinah

Mau gak mau, seperti biasa punya rujukan dari perfilman, jadi teringat film A Few Good Men, yang dibintangi Tom Cruise, Demi More, dan Jack Nicholson. Kisah dua prajurit yang diadili di pengadilan militer Amser karena dituduh membunuh sesama prajurit. Walau konteksnya perpeloncoan, pembunuhan tidak disengaja, ujung2nya menyeret perintah atasan, sampai level jenderal yang arogannya bukan main. Semua sudah tahu bagaimana akhir ceritanya, hanya saja yang “mungkin” relevan dengan ringanya hukuman Elizer (dan baca di headline Disway, ada kemungkinan ybs bisa “dimaafkan” dan tetap jadi polisi) adalah ucapan salah satu tokoh prajurit, Downey. Mengapa mereka tetap dianggap bersalah sehingga diberhentikan padahal “cuma” menuruti perintah atasan. Rekannya, Dawson, mengingatkan, yang jelas mereka terbukti gagal menjalankan tugas untuk membela yang lemah. Dari sini saya setuju, Elizer tidak sepatutnya tetap menjadi polisi, walaupun ada kesempatan itu. Dalam konteks profesi polisi “yang benar” dia telah gagal, terseret tidak dapat menegakkan hukum dengan cara yang benar karena tidak berani melanggar perintah atasannya.

Parikesit

…….. “Sewaktu berada di Chili, saya bertemu dengan Pak Tua, ia bukanlah orang Latin melainkan dari Jerman. Banyak hal mengenai kejiwaan yg diajarkan kepadaku.” Cak Aryo dengan wajah serius, memulai ceritanya. Leong Putu mulai dapat tersenyum-senyum kecil, kecil banget, sebelum akhirnya ia bertanya : “Jadi, sampean pernah di Amerika Selatan ya Cak?” “Kok kayak nggak faham plesetan cak Aryo aja, Bli. Chili itu ya… Lombok, NTB. Nah kalau jerman itu jejeré kauman. hahaha…” Jelas mbah Mars yg mengundang tawa bli LP , wajahnya mulai berseri. “Lalu, apa kata pak Tua itu, Cak. Menarik ini kayaknya? Tanya LP dengan penuh antusias mendengar cerita Aryo Mbediun…. (Bersambung , ba’da Jum’atan)

Johannes Kitono

Sukses Eliezer sebagai JC sulit diterapkan di kejahatan korupsi. Apalagi jumlah yang dikorup angkanya gede seperti E- KTP. Mendingan duduk manis di Hotel Suka Miskin sambil terima setoran dari kolega yang ikut korup tapi dilindungi namanya. Lain halnya kalau WBS ( Whistle Blowing System ) diterapkan,mungkin akan mencegah dan mengurangi korupsi.Dan bisa juga menciptakan lapangan kerja baru. Para pensiunan Polisi ,Jaksa dan hakim bisa dirikan kantor Ditektip Swasta. Tentu dapat profit sharing sekian % dari hasil Investigasinya.Hukuman bagi ASN yang terbukti korup harus seumur hidup tidak boleh jadi ASN lagi.Begitu juga halnya dengan politisi. Misalnya, anggota Dewan Partai XXX kena OTT dan divonis oleh Tipikor. Partai XXX *tidak boleh ganti * kursi napi korup itu dengan anggota lainnya. Biarlah kursi itu tetap kosong dan rakyat pemilih tahu bahwa ada anggota partai yang korup.Tolong CHD tiupkan WBS ini kepada Presiden Jokowi untuk mengurangi korupsi.

Udin Salemo

Turun lembah jalannya licin/ Pak Leong hiking sama Pak Heru/ Tak semua urusan ada uang pelicin/ Yang penting tahu sama tahu/ #aku_jawab

Otong Sutisna

Sebelum Jumatan, atasan langsung/bos kecil ngajak makan dulu sebelum sholat, biar tenang katanya. Habis Jumatan beliau bilang: kang jangan ke kantor dulu, kita tiduran sebentar….biar seger dan semangat lagi kerjanya, saya jawab; siap pa bos. !!! Mungkin karena kelelahan semalam, terbangun sudah jam 13.20, perjalanan dari mesjid ke kantor 10 menit, berarti kita telat 30 menit pak bos. Pak bos kecil bilang; gpp korupsi waktu sedikit mah, tar kita ganti….jadi pulang nya kita lebihin, jangan jam 16.30 tapi jam 18.00. Maaf pak bos, kalau kita pulang lebih dari 1 jam dari pulang kantor, sistem absensi mengira kita lembur loh ….Pak bos bilang; gpp bukan salah kita, sistem aja yg salah, nanti admin bagian absensinya kita kasih 234 yang di perebukan di disway.

Er Gham

Sangat disayangkan, tidak ada calon koruptor yang membaca CHDI. Jika pun ada satu atau dua yang kebetulan baca, mereka akan buat siasat. Kedepannya, korupsi akan mereka lakukan sendiri. Direncanakan sendiri, dieksekusi sendiri, dan segala data diamankan sendiri. Tidak lagi mengikutsertakan anak buah. Lebih capek sih kalo semua dipersiapkan sendiri. Yang penting, tidak ada peluang bagi anak buah jadi JC.

Agus Suryono

SEKARANG NAMANYA TETAP SUKAMISKIN. Padahal, penghuninya hampir 100% SUKAKAYA..

Budi Utomo

Wow sangat menarik Koh Liang Yang An. Korupsi dihubungkan dengan ketakutan akan kematian. Excellent. Tebakan saya psikolog ini mulai meragukan teori psikologi Sigmund Freud dan mengikuti teori psikologi modern yang lebih mengarah ke biologi modern. Bukan kayak Freud yang apa-apa dihubungkan dengan sex! Eits Bung Leong dilarang merusuh! Ini diskusi serius! Wakakaka

gus Suryono

YURISPRUDENSI: DAN “PENGURBANAN” ELIEZER. 1). Kalau “jabatan” JC, lantas hukumannya dipangkas dan tinggal “seperdelapan” dari “angka patokan”, yaitu 1,5 tahun dari “patokan”-nya 12 tahun. Maka di waktu yang akan datang, “hukuman 1/8 dari tarif” ini akan ada yang menanggap itu sebagai YURISPRUDENSI. 2. Dan sang “JC Baru”, bisa jadi akan menuntut perlakuan yang sama dengan Eliezer. 3). Tapi ingat, pengurbanan Eliezer juga sangat besar. Kalau dia tidak memutuskan jadi JC, dia sudah dijanji ada “fee” dari Sambo sebesar Rp 1 M – jika dia nurut skenarionya.. #Janji Sambo, kan RR dapat 500 jt, dan KM 500 jt, kalau pejah gesang nderek skenario Sambo..

Johannes Kitono

Blue Rescue. Pagi ini menyaksikan vdo anak anak Turkiye korban gempa yang sedih dan mengeluh. Ayahnya meninggal korban gempa membuat mereka selalu bertanya. Apakah dosa mereka sehingga harus menderita dan ada keinginan untuk menyusul ayahnya. Memang menyedihkan dan mengharukan melihat nasib mereka. Ada vdo lagi yang juga mengharukan. Dalam bus yang mengantar Blue Sky Team, regu penolong asal China. Official Turkiye dengan Phu Tung Hua terpatah patah berulang ulang mengucapkan xie xie kepada Regu Penolong yang berbaju Biru.Ketika ada rescue team mau belanja oleh oleh bawa pulang ke China. Boss dan staff toko mengucapkan xie xie dan tolak pembayarannya. Masyarakat Turkiye ramai ramai mendatangi dan memeluk anggota rescue team asal China. Sungguh mengharukan Rescue Team negara Komunis membantu Turkiye dengan populasi 80 juta dan 99 % beragama Muslim.Ternyata mala petaka gempa dengan korban jiwa 35 ribu telah menggugah rasa kemanusiaan umat manusia. Baik negara Komunis maupun negara yang beragama. Dengan terharu dan senyum terima kasih gadis cantik Turkiye mengalungkan bunga dileher Para Pahlawan Baju Biru asal China yang sudah menunaikan tugasnya.Semoga Semuanya Hidup Bahagia.

Udin Salemo

#everyday_berpantun Kubuat kasur dari kapuk randu/ Untuk tidur si anak nyonya/ Anaknya dua suka bertengkar/ Korupsi itu sudah jadi candu/ Ibarat mesin itulah olinya/ Roda diberi oli cepat berputar/ Masak daging kambing di dalam panci/ Panci dipinjam dari mbak Tutik/ Dhania dan CCTV menjadi kunci/ Menjadikan tersangka tidak berkutik/ Lalok si anak dalam buayan/ Tajago dek dipakaikan baju baru/ Cando iko bana parasaian/ Lamo manunggu tanggal satu/ Si Midin main layang-layang/ Takajuik inyo dek ado ruso/ Katiko rancak baimbau Sayang/ Kini lah gapuak baimbau Puso/

Agus Suryono

Kalau dibalik.. 31. S A N B O.. (Sambo)

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *