Minggu, 19 April 2026, pukul : 05:51 WIB
Surabaya
--°C

Kebenaran itu satu, Jalan ke Arah itu Banyak Jumlah

OLEH: Aming Aminoedhin

KEMPALAN: AF Tuasikal, saat beraksi di toko buku Toga Mas Surabaya.

Lelaki yang kini berpenampilan rambut gondrong, dan sering dipanggil dengan sebutan Ambon itu, bernama: Ahmad Farid Tuasikal, atau biasa pula memakai nama singkatan AF Tuasikal, dalam beberapa tulisan karya puisinya. Lahir di Mojokerto, 24 Oktober 1984. Awal mula terjun di dunia sastra pada akhir tahun 2004 atau awal 2005.

Beberapa kali mengaransir puisi atau geguritan, karya Aming Aminoedhin, untuk dilagukan sebagai musikalilasi puisi. Pernah tampil di toko buku Toga Mas Surabaya, saat bedah buku Malsasa 2007. Tampil juga di Malang, acaranya Pusat Bahasa Jakarta, yang menggelar kegiatan di Malang Raya.

Dalam hidup, menurutnya tidak ada yang kebetulan. Semua sudah tertulis dalam buku skenario hidup yang sudah ditentukan. Hobi AF Tuasikal membaca dan menulis, lantas awal 2004 diterima kerja di Balai Bahasa Jawa Timur. Kantor penelitian bahasa dan sastra, yang berlokasi di Siwalanpanji Sidoarjo, dan kebetulan ketemu Sang Presiden Penyair Jatim, Aming Aminoedhin yang sudah pindah ke situ (sebab sebelumnya kerja di Kanwil Depdikbud Jatim di Surabaya).

Sejak saat itu kemampuannya menulis kian semakin terasah. Karya puisinya pernah termuat di surat kabar Radar Mojokerto, Surabaya Post, Seputar Indonesia (sindo), dan karya esainya pernah termuat di Kompas Jatim.

Menurutnya, bahwa kebenaran itu hanya satu, namun jalan menuju kebenaran itu ada banyak. Puisi barangkali bukan sebuah pilihan, tapi lebih sebagai pemberian yang tak pernah saya pikirkan dan tak pernah terduga begitu saja menyapa ruang imaji saya. Jejaknya yang tak pernah terungkap pada kata memberi ruang tersendiri dalam mengolah ruang batin saya untuk menjadi lebih baik. Puisi ketika telah menjadi sebaris puisi, sesederhana puisi itu tercipta, selalu membuat saya bertanya-tanya akan keutuhan puisi tersebut.

“Kok bisa ya? Saya menulis puisi tersebut”. Pertanyaan ini memberi satu jawaban pasti “dari langitlah kata-kata puisi itu tercipta”, dari sini teori-teori tentang proses kreatif saya anggap turun dari langit. Karena kata-kata dalam puisi lahir dari Tuhan ke otakku, ke hatiku, ke rasaku, ke terlibatan kata-kata sahabatku, temanku, guruku, kitabku, dan alam semestaku.

Beberapa puisinya termuat juga dalam antologi bersama, seperti: Jejak Sunyi Tsunami terbitan Pusat Bahasa Jakarta (2004), Antologi Malsasa (Malam Sastra Surabaya) tahun 2005, 2007, dan 2009. Antologi penyair mutakhir jilid III versi Dewan Sastra Jatim, antologi 15 penyair jatim “Manifesto Illusionisme” (2009), antologi Candhi (2010), antologi Pesta Penyair (2010), antologi Matinya Seorang Koruptor (2010), dan antologi bersama “Temu Sastrawan Indonesia” atau yang lebih di kenal dengan TSI III Tanjung Pinang 2010.

Antologi Penyair Mojokerto Dewan Kesenian Mojokerto 2011. Antologi Puisi Matinya seorang Koruptor Dewan Sastra Jatim 2012. Antologi Puisi Penyair Balai Bahasa seluruh Indonesia 2014, Antologi Puisi Tadurus Puisi Dewan Kesenian Mojokerto (2014), Antologi Puisi Penyair NU Lesbumi Jawa Timur (2015), Antologi puisi Memo Untuk Wakil Rakyat yang di gawangi oleh Sosiawan Leak 2015–2016. Sedangkan Antologi tunggal pertamanya pada tahun 2006 “Sepenggal Puisi” memuat dua kumpulan puisi senyum rel kian jauh dan suara-suara surga.

Antologi tunggalnya yang kedua “Episode Siapa Lagi” (2012).diterbitkan oleh Diwan Pustaka yang bekerja sama dengan Balai Bahasa Jawa Timur dalam pengusulan ISBN ini juga dibedah di Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Baca Puisi di berbagai kota dalam acara-acara sastra. Hingga kini masih bekerja di Balai Bahasa Jawa Timur; dan masih banyak lagi.

Berikut ini beberapa puisinya yang ditulisnya pada tahun lalu. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.