Waktu SMA Nur sudah membaca buku Einstein. Teori relativitas. Ia juga sudah tahu ke mana kirim surat untuk bisa bertanya soal fisika yang rumit. Ia sering kirim surat ke ITB dan UGM. Nilai matematika dan fisikanya 9,9.
Maka Nur bertekad harus kuliah di Jawa. Pilihannya: elektro atau fisika. Fisika atau elektro. Malam terakhir, saat mengisi formulir pendaftaran, ia putuskan: fisika.
Di Kisaran suku Melayu dominan. Ada pepatah melayu yang jadi pegangannya. “Nasib itu bisa seperti batu atau sabut. Tenggelam atau timbul”. Ia bertekad ke Jawa agar tidak bernasib seperti batu.
Di UGM itu ia kenal gadis adik kelas. Asal Prembun, Kutoarjo. Itulah istri Prof Nur sekarang. Juga doktor fisika. Asli dalam negeri: UGM semua.
Dua doktor fisika kawin. Saya tidak tahu bagaimana 3 anak mereka nanti. (*)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan*
Edisi 18 Desember 2022: Tung Desember

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi