Penata busana itu sangat tahu dan paham watak raja yang keras dan suka dipuji, namun memelihara kebodohannya atas nama kekuasaan, raja juga tak senang dengan siapapun yang berbeda pendapat dengan dirinya dan bahkan kalau perlu siapapun yang berbeda apalagi sampai mengkritik kebijakannya maka penjara adalah tempatnya. Untuk mempertahankan kekuasaan dan kegilaan hormatnya, sang raja memerintahkan para pembantunya untuk menyusun pasal pasal yang mengancam siapaun yang berbeda.
Dasar penipu, maka kedua penata busana itupun berpura – pura sebagai orang yang ahli dan meyakinkan sang raja untuk memanfaatkan kelemahannya.
Mulailah sang penata busana melancarkan aksinya dengan mengatakan akan membuatkan sang raja baju kemegahan yang siapapun kalau melihatnya akan berdecak kagum, raja seolah terlihat digdaya dan gagah serta mewah.
BACA JUGA: Anies Itu Indonesia Banget!
Raja diracuni dengan keyakinan jubah kepalsuan, itu semua hanya akal akalan saja. Mulailah dibuat halusinasi, bahwa siapapun yang tidak bisa melihat sebagaimana sang penipu katakan melihat bahwa raja gagah, raja digdaya, dan raja mewah, maka dianggap sebagai orang bodoh dan tak punya niat baik.
Akibatnya para penjilat istanapun dibuat tidak bisa melawan persepsi sang penipu karena takut dianggap bodoh dan tidak loyal terhadap raja. Begitu juga sang raja, karena ketakutannya dianggap bodoh maka diapun berpura pura bisa melihat.
Yang terjadi kemudian adalah semua pembantu presiden koor bersama bisa melihat sebagaimana kemauan sang penipu karena mereka ketakutan dianggap bodoh dan tidak loyal. Sehingga apapun yang dilakukan oleh sang penipu raja, selalu dilaporkan kepada raja agar membuat sang raja senang.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi