Hari ini (10/12) masyarakat Indonesia menyaksikan pernikahan ageng anak bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono. Joko Widodo ibarat raja dan Kaesang ibarat sang pangeran bungsu. Rangkaian pernikahan diselenggarakan di kraton Solo dengan ritual pernikahan sesuai adat kraton.
Kaesang bukan Gatotkaca. Tidak ada perang tanding untuk memperebutkan Erina Gudono. Tetapi, kisah cinta Kaesang dengan beberapa wanita sebelum Erina layak menjadi episode tersendiri dengan judul ‘’Kaesang Krama’’.
Dalam tradisi Jawa upacara menikahkan anak adalah simbol yang menunjukkan kebesaran dan pengaruh keluarga. Semakin meriah pesta perkawinan semakin besar pengaruh si empunya gawe. Semakin banyak tamu yang datang semakin tinggi gengsi tuan rumah.
Pesta perkawinan bisa diselenggarakan sampai tujuh hari tujuh malam. Berbagai jenis pertunjukan dipertontonkan, mulai dari wayang kulit, tayuban, sampai dangdutan. Semakin panjang jalan yang macet, semakin hebat reputasi si empunya gawe.
Tradisi Jawa tidak biasa membedakan urusan pribadi dengan urusan dinas. Maka, para pegawai di kantor akan dilibatkan sebagai panitia mantenan. Kalau seorang lurah punya gawe mantu, maka carik, kebayan, dan semua perangkat desa akan dilibatkan sebagai panitia, sekaligus menjadi petugas terima tamu.
Para pejabat desa itu akan didandani dengan pakaian tradisional bersama istrinya, lalu harus berdiri berjam-jam berjejer membentuk barisan untuk menerima para tamu yang datang. Semakin banyak perangkat desa yang menjadi panitia, semakin hebatlah sang kepala desa.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi