Di pintu belakang itu tombol aifon kami tekan. “Siapa?” jawaban seorang laki-laki dari dalam rumah. “Kami keluarga Datuk Anwar dari Indonesia”. Tak lama kemudian pintu dibuka. Kami pun dipersilakan masuk ke ruang tengah dan duduk di kursi. Itulah ruang keluarga Datuk Anwar sebelum dia dipenjara.
“Tunggu kejap, Datin Wan Azizah (istri Anwar) sedang berunding dengan peguam (lawyer,)” kata seorang perempuan muda yang muncul kemudian.
Selang setengah jam, Datin Wan Azizah muncul dari ruang sebelah menemui kami. “Maaf, menunggu lama. Tadi ada runding dengan peguam untuk sidang besok,’ katanya. Penampilan Datin yang berkulit putih itu terkesan jauh lebih muda dari usianya. Wajahnya cukup cerah meski sedang menghadapi persoalan hukum suaminya.
Kami pun memperkenalkan diri sebagai wartawan dari Riau, Indonesia. Kami sampaikan bahwa setahu kami banyak masyarakat Indonesia yang bersimpati dan mebdukung perjuangan Datuk Anwar. Datin betcerita, memang ada sejumlah pembesar Indonesia yang memberi dukungan itu di antaranya B.J. Habibie, Akbar Tanjung dan lain-lain.
Perbincangan dan wawancara itu kami lakukan tanpa ada kertas catatan dan pulpen. Takut nanti dicurigai saat pulang meninggalkan rumah tersebut.
Wawancara berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan. Datin menceritakan ihwal tuduhan kasus yang penuh rekayasa. Wawancara berlangsung lebih setengah jam lebih.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi