SOLO-KEMPALAN: Sebagai penggembira, saya pilih berkeliling ke beberapa lokasi acara Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48 di Solo, seharian ini. Pagi di Stadion Manahan. Siang di Edutorium kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sore di De Colomadu. Berdua dengan Mas Ihsan, anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat, kami mengikuti rangkaian acara Muktamar dengan cara yang berbeda.
Dari tiga lokasi itu, pengalaman di De Colomadulah yang paling menyenangkan. Di sini ada ratusan stand pameran yang menampilkan berbagai keberhasilan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah. Salah satunya stand Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Stand UMP menampilkan atraksi pemintalan benang dari kepompong ulat sutera. Banyak pengunjung yang tertarik dengan aktivitas pemintalan itu. Mungkin karena kegiatan memintal benang merupakan pengalaman baru.
BACA JUGA: Bawang Muktamar
Saat saya masih sekolah di Taman Kanak-Kanak, Mbah Kakung saya juga membudidayakan ulat sutera di dalam kandang khusus. Hampir setiap hari saya ikut memberi makan ulat sutera itu dengan daun murbei yang saya petik dari pekarangan.
Tapi warna dan ukuran kepompong ulat sutera di stand UMP itu berbeda. Warnanya coklat tua. Ukurannya besar-besar. Sebesar buah matoa.

Ternyata ulat sutera di stand itu berbeda dengan ulat sutera yang di rumah Mbah Kakung. ‘’Ulat sutera ini merupakan jenis ulat sutera liar. Makanannya bukan daun murbei melainkan daun mahoni,’’ kata mahasiswa yang menjadi penjaga stand.
BACA JUGA: Montir Muktamar
Setiap kepompong tersusun dari sehelai benang sutera yang sangat halus. Kalau diurai, panjang benangnya mencapai 1,9 Km. Berat satu kepompong rata-rata 2 gram. Perlu 100 kepompong untuk menghasilkan ‘’seikat’’ benang sutera. Beberapa ikat benang kemudian ditenun menjadi kain.
Sebagian ditenun dengan alat tenun tradisional. Sebagian lagi ditenun menggunakan mesin modern. Penenunan menggunakan mesin digital itu dilakukan di Jepang.
BACA JUGA: Becak Muktamar
Teknik penenunan tradisional itu menghasilkan kain dengan tekstur dengan pola yang unik. Ada yang halus, ada yang brintik. Sedangkan penenunan modern menghasilkan tambahan desain dari tinta printer khusus.

Pengembangan budidaya ulat sutera dilakukan peneliti UMP yang melibatkan sejumlah pengrajin sutera Attakas (Attacus Atlat) di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
BACA JUGA: Muktamar Muhammadiyah di Gerbang Krisis di atas Krisis
Hasil pengembangan itu telah menghasilkan produk kain bernilai ekonomi tinggi. Harga pada label yang terpasang pada setiap kain di stand itu berkisar antara Rp 850.000 – Rp 950.000.(*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi