“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak mengikhtiarkan perubahannya”, Jelas Anies disambut tepuk tangan meriah para relawan.
Pernyataan Anies agar semua relawan dan pendukungnya berjuang memenangkan hati rakyat, ini menjadi penegas bahwa tidak selalu partai pemenag pemilu selalu memenangkan pemilihan presiden, mengapa? Karena memilih presiden tidak bergantung pada pilihan partai, tapi memilih presiden berkaitan dengan rekam jejak sang calon selama menjalankan aktivitasnya di masyarakat.
Pilihan diksi menangkan hati rakyat untuk Indonesia berkeadilan sosial adalah sejalan dengan rekam jejak yang Anies sudah torehkan di Jakarta. Sehingga dalam pandangan Adnan Nursal ( 2004 ) dalam Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD, Presiden, ini dianggap sebagai antitesa dari sebuah strategi pendekatan yang selama selalu menggunakan mahar, baik uang maupun barang.
BACA JUGA: Jakarta Siap Siaplah! Habis Terang Kembali Gelap
Strategi seperti ini dirasakan sebagai sebuah startegi yang efektif dalam membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat.
Dalam pandangan Eric Bern, pakar Transaksional Analysis, ini merupakan bentuk komunikasi yang setara dan mampu saling melengkapi dan membahagiakan, komunikasi I am ok, You are ok.
Apa yang ditawarkan Anies ini bukan sekedar gagasan yang belum teruji, Anies sudah mengalami ketika Pilgub Jakarta 2017, Anies mampu mengalahkan praktek pilkada kotor yang dipenuhi dengan bayangan kecurangan dan politik uang. Dengan gagasan, Maju Kotanya, Bahagia Warganya, Anies mampu merebut hati rakyat dan mengalahkan praktek kotor pemilu dan pilkada.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi