Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 07:25 WIB
Surabaya
--°C

Membaca Soedjatmoko, Menelusuri Madiun

MADIUN-KEMPALAN: Rumah Keluarga Besar Mangunarsan itu tampak ramai semenjak jam 7.30 pagi, ketika saya bersama rombongan sampai di lokasi. Tidak begitu jauh dari Kota Madiun, di Kecamatan Balerejo tepatnya. Agenda yang menjadi bagian dari “Membaca Soedjatmoko” itu dimulai dengan mengelilingi kompleks tersebut, salah satunya adalah Pasarean Mangunarsan.

Di dalam area pemakaman itu, terdapat makam keluarga Mangunarsan, termasuk Prof. Dr. Saleh Mangundiningrat yang merupakan dokter keraton Surakarta. Banyak keluarga dari trah Mangunarsan dimakamkan di kompleks tersebut, tapi juga ada orang lain di sana, seperti H. Pitut Soeharto, anggota intelijen yang turut menangani Darul Islam.

Pada perjalanan di pesarean itu, para peserta dipandu oleh Akhlis Syamsal Qomar, sejarawan asal Madiun yang baru ini menerbitkan buku berjudul “Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirdjo III, sekitar 1779-1810”. Buku ini merupakan serangkaian terbitan Kepustakaan Populer Gramedia mengenai Madiun. Akhlis menjelaskan bahwa trah Mangunarsan adalah nenek moyang dari Soedjatmoko.

Setelah berkeliling kompleks, acara masuk ke dalam diskusi buku yang diisi oleh Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang mengabdikan dirinya untuk meneliti tentang Pangeran Diponegoro dan sejarah tatanan lama Jawa bersama Akhlis juga. Keduanya mengulik tentang posisi Madiun dalam perjalanan sejarah di Jawa.

Peter Carey, sejarawan yang berfokus pada kehidupan Pangeran Diponegoro dalam sesi tanda tangan buku pada acara Membaca Soedjatmoko di Madiun. (ist)

Peter, yang sekarang menjadi Adjunct Professor of History di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, memberikan apresiasi terhadap upaya kepenulisan sejarah Madiun, diselingi dengan kritik dan juga penilaian atas gaya menulis para sejarawan. Ia tidak lagi hanya berfokus pada peristiwa tapi juga metode dan gagasan para ahli sejarah.

Di sisi lain, Akhlis yang sudah mengajak saya dan rombongan bernapak tilas di kompleks Mangunarsan, menjelaskan secara sekilas mengenai kehidupan Raden Ronggo Prawirodirdjo III sekaligus trah Mangunarsan. Dalam ulasannya itu, si alumni Universitas Sebelas Maret itu memperlihatkan pentingnya Mancanegara Timur yang menjadi wilayah kekuasaan trah Prawiradirjan, baik saat perjuangan dibawah Sultan Hamengkubuwono I maupun ketika mau masuk pada Perang Jawa. Istilah Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta sendiri berasal dari Pangeran Diponegoro yang melihat Prawirodirdjo III sebagai orang yang patut dicontoh perjuangannya.

Agenda di Madiun ini dihadiri oleh banyak orang dari berbagai wilayah, baik di sekitar Madiun (Jawa Timur) sampai dengan Jawa Tengah maupun Jawa Barat dan daerah lainnya. Sebagai bagian dari Membaca Soedjatmoko, acara ini didukung oleh PT. Samudera Indonesia, yang didirikan oleh Soedarpo Sastrosatomo, kolega Soedjatmoko dari Partai Sosialis Indonesia. (Reza Hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.