KEMPALAN: Ada korelasi yang kuat, pilihan partai politik pada calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam Pemilu 2024. Salah mengusung capres khususnya, yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan konstituen, tentu berimplikasi pada nasib partai bersangkutan.
Maka, partai politik mesti cermat mendengar suara konstituen dan secara tepat menentukan siapa capres/cawapres yang akan diusungnya. Partai NasDem sudah menentukan pilihan capresnya (3 Oktober), dan itu Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Meski suara NasDem hanya diseputaran 10 persen, dan itu kurang dari persyaratan parliament threshold yang 20 persen.
NasDem yakin dengan pilihan capresnya, dan tidak sabar menunggu sampai Anies Baswedan purna tugas (16 Oktober 2022). Padahal jika harus menunggu, itu cuma dua pekan saja. Spekulasi penetapan Anies capres yang dipilih NasDem, itu disangkutpautkan munculnya “pemaksaan” KPK mentersangkakan Anies dalam penyelenggaraan Formula E.
BACA JUGA: Sikap Elegan Anies
Apapun yang dilakukan NasDem pastilah itu langkah terukur, jauh dari grusa-grusu. Tidak perlu Anies diarak ke sana kemari, pakai naik andong segala–saat Anies memenuhi undangan DPW PPP DI Yogyakarta beberapa waktu lalu–sementara DPP PPP bergandengan tangan berkoalisi membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama Partai Golkar dan PAN. Koalisi yang tidak jelas dibuat untuk apa.
Atau Anies Baswedan diundang dalam acara partai tingkat wilayah DKI Jakarta, atau bahkan acara partai tingkat nasional. Anies dielu-elukan peserta yang hadir dalam perhelatan itu, Anies Presiden… bergema memenuhi hall tempat acara berlangsung. Tapi partai bersangkutan masih mengulur waktu, entah oleh sebab apa. Alasan yang mengemuka, masih digodok diinternal partai siapa capres yang dipilihnya.
Kesan sok jual mahal ditampakkan beberapa partai politik tertentu, dan menganggap itu bagian dari strategi partai. Lalu dimunculkan kriteria capres yang akan dipilih, bagian dari mengulur waktu. Padahal ujung-ujungnya partai dengan basis massa yang hampir sama, itu tidak punya pilihan lain, kecuali apa yang dimaui konstituennya, dan itu Anies Baswedan.
Strategi berlama-lama dengan penentuan capres, ini menggelisahkan konstituen di akar rumput. Psikologi konstituen itu tidak dibaca dengan baik partai bersangkutan. Tapi tidak dengan NasDem, yang gas pol berani mendeklarasikan Anies Baswedan, yang dianggap bukan pilihan istana. Soal mengapa Anies mesti tidak disuka, itu bisa dianalisa pada bab lain.
Sikap Partai NasDem yang mendahului partai politik lain–partai yang ujung-ujungnya akan memilih Anies juga–dengan segala risiko yang dihadapi di mana NasDem sebagai partai yang bergabung dalam barisan koalisi istana, berani ambil sikap politik berbeda. Langkah NasDem langkah cerdas, seolah menangkap bahwa rakyat butuh perubahan. Dan simbol perubahan itu ada pada Anies Baswedan.
BACA JUGA: DNA PAN dan PPP Itu Anies Baswedan, Bukanlah Penilaian Subyektif
NasDem tentu penuh perhitungan saat mengambil sikap politik memilih Anies Baswedan sebagai capres di Pemilu 2024. NasDem tampil sebagai partai modern, yang praktis dan karenanya lentur dalam menentukan pilihan siapa yang nantinya akan dipilih sebagai capres. Kandidat diputus di Rapimnas, muncul tiga nama; Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Andika Perkasa. Putusan akhir siapa yang nantinya dipilih sebagai capres, hak prerogatif diberikan pada Ketua Umum, Surya Paloh.
Setelah itu, tanpa perlu pertimbangan lain, Anies Baswedan dipilih sebagai Capres 2024 pilihan NasDem. Sedang cawapres diserahkan pada capres untuk memilih, siapa yang sekiranya nantinya bisa bekerjasama dengan baik. Meski itu juga perkara tidak mudah buat Anies dalam memilih cawapresnya–dimungkinkan terjadi tarik-menarik kepentingan partai yang digadang-gadang akan berkoalisi. Berharap semua partai politik yang berkoalaisi akan mementingkan kepentingan yang lebih besar dibanding kepentingan sempit sekadar kepentingan partai.
Menurut berita jam 09.00 pagi ini, Anies Baswedan akan bertandang ke markaz DPP Partai Demokrat, entah apa yang akan dibicarakan. Tapi pastilah tidak keluar dari asas kepatutan–meski berita Deklarasi Capres 2024 Nasdem itu diberitakan luas–Anies perlu menyampaikan langsung pada Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono–dan lalu bisa jadi selanjutnya mendatangi markaz PKS dengan maksud yang sama.
Sepertinya belum pasti Anies bicara soal cawapres–saat bertemu AHY pagi ini. Waktu untuk membicarakan itu masih panjang. Banyak parameter bisa dipakai, dan meski penentuan cawapres oleh NasDem diserahkan pada Anies, tapi belum/tidak oleh partai koalisi lainnya. Ini hal yang juga mesti dikelola Anies dengan baik.
Terpenting semua partai yang berharap pada koalisi, NasDem, Partai Demokrat, dan PKS–meski tidak menutup kemungkinan akan diikuti 2 partai lain, setidaknya itu yang disampaikan Wakil Ketua Partai NasDem, Ahmad Ali–untuk tidak memaksakan keinginan partai sendiri, dengan mengabaikan suara koalisi lainnya.
Jalan koalisi definitif akan mudah ditempuh jika semua partai yang berkoalisi punya pandangan yang sama: meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. Wallahu a’lam. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi