Liam Then
Sangat sedih, nelangsa, hal seperti ini bisa terjadi. Alpa besar yang disebabkan oleh ketidakpedulian, alpa besar yang mentolerir ketidakcakapan. Hasilnya nyawa manusia terkorban sia-sia. Mayoritas anak-anak muda yang penuh harapan masa depannya . Tumpuan harapan bapak ibunya. Kejadian seperti ini, bukti bahaya kalau kealpaan di tolerir dan dianggap biasa.
Pryadi Satriana
AREMA MENGGUGAT Ya … Tuhan … Sebagian besar korban begitu muda Anak2 sekolah Rata2 uang saku mereka sekitar 10rb Mereka rela ndhak makan nasi pecel + teh selama 5 hari Demi selembar tiket Yg ternyata Mengantar mereka ke alam baka Aremania itu cuma ‘supporter’ Bukan bajingan … Bukan bangsat … Bukan teroris … Mereka cuma penonton Mereka ndhak ingin ‘tawur’ Mereka ndhak punya ‘pentung’ Mereka ndhak punya ‘pelindung diri’ Mereka cuma mau nonton Dan pulang … Tapi mereka ndhak bisa pulang Tubuh mereka sudah terbujur kaku … Jiwa mereka telah melayang Adakah mereka bertanya: “Why me?” “Kenapa aku mati seperti ini?” “Kenapa aku ndhak bisa pulang lagi?” “Aku ingin pulang …” “Sudah malam, Ibuku menunggu di rumah … ” #aku juga Arema# #aku cuma bisa berbuat ini# #maafkan aku Kawan# #kembalilah ke hadiratNya# #doaku menyertaimu Kawan# #semoga dosamu diampuniNya# #semoga ada di hadiratNya# #Aamiin#
Er Gham
Korban-korban belum tentu perusuh. Mungkin ada keluarga keluarga yang hanya ingin menonton saja. Tapi terjebak asap atau terjatuh dan terinjak saat berebut keluar stadion.
Pryadi Satriana
Suara lirih dari Kanjuruhan: “Bu, aku ingin pulang …” “Bu, aku ingin … ” “Bu, aku … ” “Bu … ”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi