KEMPALAN: Sepak bola, di negeri ini, jadi olah raga paling digemari. Semua lapisan masyarakat mencintai. Asyik bermain sepak bola, dan setidaknya asyik menonton sepak bola. Bahkan sepak bola lebih disuka ketimbang bulu tangkis, yang lebih memberi berbagai medali kemenangan buat bangsa.
Sepak bola jadi olah raga dan tontonan yang mengasyikan. Melihat langsung di stadion bola tentu lebih mengasyikkan dibanding menonton di rumah. Atmosfernya memang beda dengan menonton lewat televisi, atau media tontonan lainnya. Riuh suporter terkadang lebih riuh dari permainan dua klub yang sedang bertanding.
Maka mendatangi lapangan bola melihat tim kesayangan bertanding, bagi kelompok tertentu, seperti jadi kewajiban. Apapun dilakukan. Bahkan dompet tipis yang tidak memungkinkan untuk bisa hadir di sana, dipaksa untuk tetap hadir dengan segala cara.
Meminta uang dengan sedikit memaksa, bahkan memaksa dengan keras pada orang tua, atau menjual barang yang dipunya untuk membiayai diri hadir di lapangan guna memberi support pada klub yang dibelanya. Memaksa untuk hadir di lapangan, itu bagian dari diri yang hadir membela tim kesayangan.
Munculah kelompok suporter dari kumpulan pribadi-pribadi yang punya “nasib” hampir sama, mencintai klub yang dibela bahkan dengan cara berlebihan. Berharap klub yang dibelanya selalu memberi kemenangan. Tidak masalah tim bermain buruk, yang penting menang.
Datang ke stadion sepak bola untuk kemenangan klub yang dibela. Menang dan menang yang ada di pikiran, tanpa menyisakan ruang sedikit pun pertandingan boleh berjalan seri, atau klub yang dibelanya bisa kalah. Siap menang, tidak siap kalah seperti jadi adagium yang dipegang. Menang menjadi kebahagiaan, dan kalah jadi kemarahan, bahkan bisa destruktif.
Suasana kemenangan klub yang dibelanya akan dibawa balik ke tempat tinggalnya dengan suasana kebahagiaan, atau sebaliknya. Sumpah serapah kemarahan jika tim yang dibela kalah, itu bisa nyerempet pada ibu bapaknya, dan jika sudah berkeluarga juga akan mengena pada istri dan anak-anaknya. Atmosfer kemenangan dan kekalahan yang terbawa hingga mewarnai rumah tangganya. Dan itu bisa dirasa setiap pekan, setiap tim kesayangan bertanding. Tidak sedikit pula yang sampai terbawa ke tempat kerja.
Sepak bola bukan lagi jadi tontonan yang menghibur, tapi juga mampu meneror tidak saja pecintanya, tapi juga lingkungan sekitarnya. Berharap selalu menang, dan tidak siap kalah menghadirkan pemandangan tidak nyaman. Memunculkan kemarahan suporter, yang sampai merusak fasilitas yang ada di stadion, bahkan lampu penerangan di jalanan menuju stadion jadi sasaran untuk dihancurkan. Suporter berubah menjadi beringas.
Menjadi pemandangan biasa jika wasit yang memimpin di lapangan harus bersikap sedikit atau bahkan banyak “membela” tim tuan rumah. Seperti memberi bonus, yang semua mesti tahu sama tahu. Jika coba bersikap netral saja, wasit akan jadi hujatan penonton apalagi salah memutus yang merugikan tim tuan rumah, maka tidak saja sorakan penuh marah, juga umpatan kotor muncul dari suporter tuan rumah.
Menjadi hal biasa, jika peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan usai, suporter tim kesebelasan yang dibelanya kalah, maka bukan pemandangan aneh jika wasit jadi bulan-bulanan dikejar penonton layaknya maling dikejar orang sekampung.
Terkadang pemain dan juga official di pinggir lapangan juga ikut andil meneror wasit, jika putusannya merugikan timnya. Itu sedikit banyak ikut menyulut penonton untuk juga mengadili wasit pengadil di lapangan dengan tidak sepantasnya. Menjadi wasit bukan perkara mudah, mesti siap tidak saja dicaci tapi juga dihadiai bogem mentah dan tendangan kungfu. Benar-benar horor.
Belum lagi organisasi induk sepak bola nasional, PSSI yang dikelolah oleh mereka yang sedikit pun tidak pernah bersentuhan dengan dunia sepak bola. Diambil karena ambisi dan figur populer. Sepak bola menjadi bisnis menggiurkan. Beberapa kali coba diungkap, konon ada aroma suap di sana. Meski tidak sampai tuntas, misal pengaturan skor pertandingan. Membongkar itu tentu bukan perkara mudah. Mesti ada kebijakan serius, bahkan jika perlu melibatkan orang nomor satu di republik ini, dan itu dengan perintah tegas membongkar jaringannya sampai ke akarnya.
Tragedi Kanjuruhan pecah pada 1 Oktober 2022. Stadion yang berada di kabupaten Malang, Jawa Timur, itu jadi berita mengguncang bukan saja dalam negeri, tapi juga manca negara. Bahkan laga Manchester City vs Manchester United (MU), perlu diawali dengan pengheningan cipta satu menit. Dan di lengan para pemain kedua tim disematkan pita hitam, tanda ikut berkabung. Begitu pula pertandingan Liga Spanyol, perlu memberi penghormatan pada korban Tragedi Kanjuruhan.
Stadion Kanjuruhan menjadi terkenal sejagad, tapi terkenal memunculkan tragedi yang akan terus dikenang sepanjang masa. Bertanding di sana tim tuan rumah, Arema (Malang) dengan Persebaya (Surabaya). Tim tuan rumah kalah dengan skore 2-3. Membuat kekecewaan luar biasa suporternya.
Setelah peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, berpuluh orang turun ke lapangan, entah apa yang akan dilakukan. Para pemain tim Persebaya dan ofisialnya tidak seperti biasanya saling berpelukan, tanda riang atas kemenangan, tapi berlarian menuju ruang ganti pemain untuk cepat-cepat dieksekusi keluar meninggalkan stadion. Seolah tahu bahwa suporter tuan rumah tidak akan bisa menerima kekalahan.
Polisi yang berjaga melihat sebagian penonton yang turun dari tribun stadion, menyemprotkan gas air mata pada penonton yang masih berada di tribun. Muncul ketegangan luar biasa dari penonton guna menyelamatkan diri turun dari tribun. Pintu keluar tidak mampu menampung penonton yang keluar sekaligus. Penonton yang sudah dengan nafas sesak menghirup gas air mata, tidak sedikit yang jatuh dan terinjak-injak.
Bahkan konon penonton yang sudah sempat keluar dari stadion, masih disemprot gas air mata polisi yang siaga di luar stadion. Ada apa sebenarnya dengan tindakan polisi ini, tindakan di luar kepatutan–sementara itu yang bisa dilihat dari pemberitaan yang muncul.
Tragedi Kanjuruhan merupakan insiden dahsyat. Jatuhnya korban anak manusia dengan jumlah tidak kurang dari 150 orang, yang mesti merenggang nyawa oleh beberapa faktor penanganan yang tidak cakap, dan faktor lain yang menyertai, yang mesti diungkap.
Tragedi Kanjuruhan disebut tragedi mematikan nomor dua terdahsyat yang pernah terjadi, setelah tragedi di Stadion Peru, 1964. Miris disebut, dan itu selamanya, negeri dengan prestasi tragedi kematian nomor dua di dunia.
Negeri yang minim prestasi dalam permainan sepak bola, jika dibanding prestasi yang didapat, meski hanya di tingkat ASEAN. Anehnya, mampu menyumbang jumlah kematian tak terkira. Bagai tumbal anak manusia yang dikorbankan dalam permainan minim prestasi. Menghadirkan berbagai kisah pilu terekam. Seperti kisah berikut bisa disebut.
Farel dan Tjahjo dua bersaudara, ikut merenggang nyawa. Dua anak muda belasan tahun itu meninggalkan kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Kakak perempuannya menangis sesunggukan saat dua jenazah adiknya itu di masukan ke liang lahat. Perih hati rasa melihatnya. Banyak kisah lain bisa dikisahkan, yang semuanya menyisahkan duka dan air mata sepak bola, yang tak menyumbang prestasi kecuali hura-hura keriangan tanpa pola.
Sebenarnya ada apa dengan negeri ini, seperti negeri tak terurus dari A-Z. Polisi yang gagap menghadapi massa dan lalu membalas dengan tindakan tak semestinya. Memakai senjata api dan gas air mata di stadion sepak bola, itu hal terlarang. Perlu mengurainya, menghadirkan tim investigasi independen untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Rasanya sudah tak mampu lagi memperpanjang tulisan ini, ingin cepat-cepat menutup menyudahinya. Mungkin apa yang disampaikan coach Pep Guardiola (Manchester City) setelah klubnya mengalahkan MU, bisa dipakai untuk menyudahi tulisan ini Pep dengan wajah sedih mengatakan, Gila… terlalu banyak korban yang jatuh–sambil tangannya menutup separuh wajahnya dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tragedi dahsyat yang diluar pikirannya. Mungkin pikirnya, murah bener nyawa manusia yang mesti jadi korban itu. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi