Dalam sejarah Indonesia, 7 presiden yang pernah berkuasa berasal dari etnis Jawa dan beragama Islam. Satu-satunya yang tidak beretnis Jawa ialah B.J Habibie yang beretnis Gorontalo berdarah Bugis. Kepresidenan Habibie dianggap tidak paripurna, karena hanya menjabat selama 2 tahun menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri.
Habibie sebenarnya berniat menjadi calon presiden, tapi keinginannya kandas karena pidato pertanggungjawabannya ditolak oleh DPR. Penolakan itu dianggap sebagai upaya penjegalan terhadap Habibie yang ketika itu mendapat dukungan luas dari kalangan pemilih Islam. Seandainya Habibie tidak dijegal, sejarah Indonesia sangat mungkin berubah, dan mitos presiden Jawa bisa saja dipatahkan.
Tetapi, sejarah sudah tertulis, dan mitos sudah tertanam menjadi kepercayaan. Dalam tradisi Jawa dikenal adanya ramalan Jayabaya, raja Kediri, yang dikenal dengan sebutan ‘’Jangka Jayabaya’’ yang berisi ramalan masa depan.
BACA JUGA: Dewan Kolonel
Salah satu yang terkenal adalah bahwa bumi Nusantara akan dipimpin oleh penguasa yang disebut sebagai ‘’Notonegoro’’. Secara harfiah, notonegoro atau natanegara berarti menata negara atau memimpin negara. Tetapi, bagi sebagian masyarakat yang memercayai ramalan itu notonegoro diinterpretasikan sebagai akronim dari nama-nama penguasa yang bakal menjadi presiden.
Kemudian ‘’No’’ dihubung-hubungkan dengan Sukarno, ‘’To’’ dihubungkan dengan Soeharto, dan seterusnya. Tentu saja ini ilmu gutak-gatuk alias utak-atik yang tidak ilmiah. Nama-nama presiden berikutnya tidak berurutan seperti akronim notonegoro, karena presiden berikut setelah Pak Harto adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi