Tapi, seorang pendukung Gus Dur bercanda bahwa nama Gus Dur masuk dalam Jangka Jayabaya. Menurutnya, Jayabaya menyebut penguasa Nusantara adalah ‘’Notomanconegoro’’. Berarti, setelah ‘’No’’ kemudian ‘’To’’ setelah itu ‘’Man’’ yang merujuk pada ‘’Abdurrahman Wahid’’. Tentu saja ini juga sekadar canda politik.
Fakta demografis, sosiologis, dan historis memang menunjukkan dominasi etnis Jawa sebagai etnis terbesar dan berpengaruh. Bung Karno menjadi presiden pertama dan Mohammad Hatta yang beretnis Minangkabau menjadi wakil presiden. Ketika itu dua tokoh tersebut memang menjadi pemimpinn gerakan perjuangan yang paling menonjol di antara yang lain, sehingga kemudian dipilih secara aklamasi menjadi presiden dan wakil presiden.
Dua tokoh itu disebut sebagai ‘’Dwi Tunggal’’ yang saling melengkapi. Hatta benar-benar menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepemimpinan nasional, dan tidak sekadar menjadi ban serep bagi Soekarno. Soekarno selalu berkonsultasi kepada Hatta untuk mengambil semua keputusan-keputusan strategis, dan berbagi tugas-tugas kenegaraan dengan Bung Karno.
BACA JUGA: Nikita vs Najwa
Herbert Feith menyebut pasangan ini sebagai kombinasi yang saling melengkapi. Bung Karno yang jago dalam berorasi dan mempunyai kharisma besar untuk mendapatkan pendukung yang luas disebut sebagai ‘’solidarity maker’’. Sedangkan Bung Hatta yang lebih kalem, cermat, teliti, dan tekun, disebut sebagai ‘’administrator’’. Perpaduan dua tipe pemimpin dianggap ideal.
Kombinasi ini kemudian dianggap sebagai resep ideal untuk menyatukan kekuatan Jawa dan luar Jawa, atau Jawa dengan etnis non-Jawa. Dalam beberapa kontestasi politik di era pemilihan langsung pasca-reformasi, pola kombinasi ini sering dipakai sebagai strategi pemenangan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi