Kamis, 28 Mei 2026, pukul : 21:53 WIB
Surabaya
--°C

Tangis Panggung

mzarifin umarzain

listrik sudah diubah jadi panas. jadi tak nyetrum lagi. seperti penyetrika pakaian, kan panas, tak nyetrum. seperti mejikjer panas, tapi tak nyetrum.

Pryadi Satriana

Kelebihan listrik? Mosok? Masih banyak jalanan dalam kota di Bogor yg “gelap”. Pun di sekitar kompleks militer Atang Senjaya. ‘Kelebihan listrik di Jawa’ tapi masih banyak jalanan dalam kota di Jawa yg “gelap”,hi..hi.. . Akhirnya “rakyat miskin jadi proyek” a.n. “subsidi”. Ah, sedihnya. Orang miskin kok “dipolitisasi” dan “dijadikan proyek “. Bisa juga kan sebutannya “subsidi” padahal itu “proyek”? Harus ada kejelasan dari PLN tentang hal ini supaya ‘ndhak gelap’. Saatnya “terang-terangan.” Salam.

Rihlatul Ulfa

Dulu saya lebih memilih untuk kerja di Jakarta, karena saya bisa pakai alternatif lain yaitu Transjakarta yg harganya hanya 3500 saja. mau berapa kali transit pun mau ke Jakarta arah manapun. dibanding saya harus bekerja di kelapa dua, Gading Serpong yg kalau naik angkutan umum harus dua kali atau harus naik ojol. beberapa kali saya harus menggugurkan bekerja karena saya akan ditempatkan di bandara Soekarno-hatta. padahal penyerapan tenaga kerja untuk bandara begitu besar, sayang sekali karena masalah transportasi ini. harusnya juga sudah bisa bertemu Abah dibandara hehe. UMR, UMP di Indonesia jauh dari kata CUKUP. jadi Pemerintah harus buat inisiasi disektor transportasi. biar mereka gak gampang demo, biar uang mereka yg banyak keluar di transportasi bisa dialihkan ke makanan untuk gizi keluarga dan dirinya.

BACA JUGA  Berebut Kursi Rumah Para Juara: Keketatan SNBT Unesa Tembus 12,2 Persen, Rumpun Kesehatan Mendominasi

Azwar Anas

Kelebihan manusia di Jawa boleh (oleh pemerintah) diekspor ke Kalimantan. Skalian bawa listrik (yg kelebihan itu) dong supaya hadir juga lah listrik di masyarakat. Yg sejak Indonesia belum merdeka sampai skrg blm ada listrik.

James Atlee

Batubara tak bisa terbarukan, dan dieksploitasi HABIS-HABISAN utk ekspor. Pertinyiinyi : siapa yg menikmati eksploitasi HABIS-HABISAN itu? Saya? Anda? Pak Dahlan? Adaro? Bumi? Bila saatnya nanti habis dikeruk, biaya energi akan naik tajam, siapa yg terbebani? Saya? Anda? Adaro? Atau siapa? Laaaaaah kok diizinkan dikeruk HABIS-HABISAN ???

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.