JAKARTA-KEMPALAN: Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus menyebutkan bahwa biaya yang diperlukan untuk menerapkan teknologi VAR ke Liga 1 bisa mencapai Rp 100 miliar.
Pernyataan itu diungkapkan oleh Ferry setelah menghadiri acara pelantikan pengurus PSSI periode 2023-2027 di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Jumat (26/5).
“(Biaya VAR) banyak itu, enggak cukup Rp 10 Rp 20 miliar, mendekati Rp 100 miliar. VAR itu regulasi yang investasi lalu liga yang menginvestasikan, (kemudian) kami pasang di 18 stadion.” kata Ferry kepada awak media.
Ferry menyebut bahwa mahalnya penerapan Video Assistant Referee (VAR) di Liga 1 disebabkan karena geografi Indonesia yang cukup lebar.
“Kalau di Thailand itu dengan 16 klub dia punya empat station, kemudian di Malaysia ada enam station kalau nggak salah, di Singapura itu dua station. Jadi kalau di Indonesia semua klub itu ada karena di sini geografisnya agak lebar, bandwidth-nya juga variatif.” tambahnya.
Pria berusia 59 tahun itu mengatakan bahwa PSSI telah berkoordinasi dengan beberapa pihak untuk memastikan implementasi VAR di Liga 1 dapat berjalan lancar.
“Kami belum tanda tangan MoU dengan klub soal persiapan infrastruktur. Kalau stadion tidak memadai, terlalu jauh, keamanan tidak memadai, kami juga siapkan modul lain dalam bentuk Van.” imbuh Ferry.
“Pekerjaan VAR ini panjang sekali, kami godok ini sudah hampir empat bulan. Mulai dari knowledge, presentasi, kemudian pengetahuan yang ditransfer ke kami ini panjang banget. Memang pada waktu Ketua Umum diresmikan, sudah langsung mencanangkan kita harus naik kelas lah.” tambah pria kelahiran 1964 itu.
PSSI merencanakan bahwa VAR akan mulai digunakan pada awal tahun 2024 atau ditengah-tengah kompetisi Liga 1 musim 2023-2024.
Dalam waktu dekat, PSSI juga akan mengadakan pelatihan penggunaan VAR untuk 30 wasit dan asisten wasit serta 27 replay operator.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi