Rabu, 1 Juli 2026, pukul : 15:33 WIB
Surabaya
--°C

Keluar Melambai

Masalahnya saya tidak akan naik pesawat. Saya akan menyeberang ke Kanada jalan kaki. Bandara itu jauh dari penyeberangan: 25 km. Apa boleh buat. Kembalikan mobil dulu. Ups…Sudah terlalu sore. Kantornya sudah tutup.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: Saya pilih jalan kaki ke Kanada. Anda sudah tahu kenapa: ingin melihat air terjun Niagara dari arah yang paling sempurna. Yakni, dari atas jembatan penyeberangan antar negara: dari kota Niagara yang di sisi Amerika ke kota Niagara yang di sisi Kanada.

Dengan jalan kaki kami bisa berhenti di atas jembatan itu. Tidak ada tanda ”P-coret” di pinggirnya.

Anda bisa parkir kaki sesuka Anda di pinggir jembatan – pun di tengahnya.

Jembatan ini cukup lebar. Bisa untuk berjalan berjajar lima orang. Apalagi sore itu agak sepi. Orang bisa dihitung dengan jari. Baik yang ke arah Kanada mau pun yang dari arah Kanada ke Amerika.

Kami – terutama Jannet yang dari Beijing itu – berhenti hampir pada setiap lima langkah. Kami berfoto dengan latar belakang air terjun Niagara. Seorang wanita setengah baya – yang dari arah Kanada – menawarkan jasa: memotret kami. Jannet menyerahkan HP-nyi kepadanyi.

“Kami dari Indonesia. Anda dari mana?”

“Saya Amerika. Dari Chicago,” katanyi.

Ganti saya menawarkan jasa untuk memotretnyi bersama suaminyi. Dia menolak. Saya tahu: orang Amerika tidak terlalu suka potret diri. Itu saya ketahui dari John Mohn, ”ayah” anak saya saat sekolah SMA di Ellinwood, Kansas.

Saya pernah ke Niagara bersama John Mohn: 10 tahunan lalu. Hanya berdua. Hanya mampir sebentar. Waktu itu kami dalam perjalanan naik mobil dari Kansas ke Boston: ada rapat soal nuklir di MIT dengan tim dari universitas ternama itu. Kami juga melihat reaktor nuklir di lingkungan kampus itu – reaktor untuk riset.

BACA JUGA  Dokter Icha

Kami bergantian mengemudikan mobil selama tiga hari – John sekitar 70 persennya. Umurnya 10 tahun lebih senior. Saat ini ia 86 tahun dan masih sehat – pindah rumah ke Lawrence, masih di Kansas.

John-lah yang menyarankan agar Ayrton masuk Kansas University – kampus John dulu. Rumah John sekarang dekat dengan kampus itu. Maka cicit Pak Iskan itu pun ikut tes. Lolos. Nilai tesnya baik. Sampai mendapat beasiswa dari KU. Bulan depan berangkat ke sana.

Dari Kansas ke Boston memang lewat Niagara. Sayang kalau tidak mampir. Akhirnya kami bisa setengah jam melihat Niagara.

Saya minta John memotret saya dengan latar belakang air terjun yang dahsyat itu. Lalu ganti saya menawarkan jasa untuk memotretnya. Ia menolak. Ia pilih banyak memotret objeknya.

Di Niagara-lah saya mendapat penjelasan bahwa orang Amerika kurang suka berfoto diri. Saya pun melihat sekeliling. Benar. Yang banyak berfoto adalah orang dari Asia.

Kami masih bisa mampir satu lokasi lagi dalam perjalanan dari Niagara ke Boston: ke Cornell University di Ithaca. Ada guru besar ekonomi asal Surabaya mengajar di Cornell. Anda sudah tahu namanya: Iwan Jaya Azis – putra pertama pemilik harian Surabaya Post. Sampai sekarang Mas Iwan masih di Cornell.

Kali ini dari atas jembatan Niagara saya hanya bisa kirim WA kepadanya: tidak bisa mampir.

Sebenarnya menyeberang ke Kanada bisa pakai mobil. Jembatan mobilnya sama dengan yang untuk jalan kaki. Mobil di bagian tengahnya.

BACA JUGA  Bawah Tanah

Tapi mobil yang saya sewa sejak dari New York ini tidak boleh menyeberang ke Kanada. Mungkin karena jenis mobilnya. Mungkin karena itu mobil sewaan. Anda bisa bantu saya bertanya ke ChatGPT mengapa begitu.

Maka setelah bermalam satu malam di Buffalo saya harus mengembalikan dulu mobil sewaan itu. Bisa dikembalikan di kantor cabangnya yang terdekat dengan kota Buffalo: di bandara international Niagara.

Tempat sewaan mobil memang selalu dekat bandara: orang turun dari pesawat langsung sewa mobil. Mau naik pesawat kembalikan mobil.

Masalahnya saya tidak akan naik pesawat. Saya akan menyeberang ke Kanada jalan kaki. Bandara itu jauh dari penyeberangan: 25 km. Apa boleh buat. Kembalikan mobil dulu. Ups…Sudah terlalu sore. Kantornya sudah tutup.

Di Amerika yang seperti itu tak menjadi masalah. Taruh saja mobil di tempat parkirnya meski tidak ada petugas di situ. Lemparkan kunci mobil ke lubang kotak pengembalian kunci – melemparkannya pelan-pelan karena lubangnya kecil sekali.

Lalu kami naik Uber ke jembatan penyeberangan: hanya USD 49 – dengan kurs rupiah sekarang itu ”Hanya” hampir satu juta rupiah.

Tiba kembali di dekat jembatan, saya pikir kami harus melewati imigrasi Amerika dulu: menandakan kami keluar dari Amerika. Paspor diperiksa. Distempel.

Tidak. Kami meninggalkan sisi Amerika begitu saja. Tidak melewati apa-apa. Hanya melewati dua pintu putar yang tidak dijaga. Juga tidak terlihat ada petugas satu pun yang mengawasi.

Begitulah Amerika. Masuknya pakai prosedur. Keluarnya hanya dengan melambai – itu pun kalau mau. (Disway)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.