“Kami dapat info ciri-cirinya dari agen kami. Siapa pelakunya kami tak tahu,” kata saya.
“Laporkan, ya. Nanti saya telepon kapolseknya. Jangan sampai isunya jadi ke mana-mana, apalagi dikaitkan dengan kasus yang lagi diberitakan heboh itu,” katanya. Saya menelepon kantor, meminta Hendra menemui agen kami dan membawanya ke polsek untuk bikin laporan.
Iptu Binsar kemudian bicara langsung terkait undangan yang dikirim ke Dinamika Kota. Kata saya tak perlu undangan resmi begitu kalau memang mau bertemu kami. Kami bisa datang kapan saja. Atau bertemu di mana saja.
“Betul. Ini urusannya sudah sampai ke Mabes Polri,” katanya. “Situasi kamtibmas sedang memanas menjelang pemilu. Itu saja sebenarnya sudah menuntut kerja keras kita bersama. Persaingan antar pendukung caleg, antar pendukung cawako, antarormas, sekarang sudah luar biasa ruwetnya. Ditambah lagi kasus pembunuhan Putri ini, yang sepertinya semua pihak mau menunggangi untuk kepentingan masing-masing…”
Saya berdiam mendengarkan. Menebak-nebak ke mana arah pembicaraannya. Tak sulit sebagaimana juga tak sulit untuk memahami apa maunya. Yang saya tak paham adalah apa maksudnya “… ini urusannya sudah sampai ke Mabes Polri”?
“Pak Binsar. Saya mau sampaikan, dan sebenarnya tak penting benar karena sudah jadi sikap kami dan jelas itu kami tunjukkan dalam pemberitaan kami, bahwa kami tak punya kepentingan apa-apa dalam pemberitaan kasus ini. Seperti kasus dan berita lain, bagi kami…”
“Oke, Mas Dur. Saya paham. Saya tahu posisi Mas Dur sebagai jurnalis dan saya hormati itu. Saya tidak secara khusus mau bicara soal kasus pembunuhan itu. Begitu juga kalau nanti ketemu sama Pak Kapolresta…” kata Iptu Binsar.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi