Tidak ada yang kebetulan atau kecelakaan dalam politik. Kalau ada yang terlihat sebagai kebetulan, Anda berani bertaruh bahwa hal itu dibuat seperti kebetulan. Begitu kata Franklin D. Roosevelt. Dalam kasus Anies, ‘’kebetulan’’ itu mungkin bukan dibuat kebetulan yang dirancang oleh manusia. Bisa saja ada ‘’divine intervention’’, campur tangan ilahiah, di dalamnya.
Jokowi harus menghindar dari kejaran wartawan dengan narasi copras capres. Dia berbohong, tapi akhirnya terciduk juga. Ketika ‘’tawaran’’ dari PDIP muncul, Jokowi langsung menyahutnya dengan mengatakan siap. Dia meninggalkan tugasnya sebagai gubernur DKI. Mungkin lawan politiknya bisa menuduhnya ‘’tinggal glanggang colong playu’’, melarikan diri meninggalkan gelanggang perang.
BACA JUGA: Ngeri-Ngeri Sedap
Sebaliknya, Anies tidak perlu membuat narasi copras capres. Anies mengambil jalan tegas bahwa dia siap maju dalam kontestasi pilpres 2024. Itulah yang menjadi pembeda Anies dari Jokowi. Itu pula yang menyelamatkan Anies dari kemungkinan serangan ‘’tinggal glanggang’’ kalau dia maju pada pilpres 2024.
Era Jokowi segera berakhir. Tetapi, ada tanda-tanda Jokowi tidak akan membiarkan eranya berakhir begitu saja. Jokowi masih akan ikut berperan untuk menentukan siapa yang menjadi suksesornya. Jokowi masih ingin memainkan peran sebagai ‘’the king maker’’.
Bukan hanya itu. Wacana 3 periode belum sepenuhnya pupus. Setidaknya para pendukung Jokowi masih melirik-lirik kesempatan untuk memunculkan wacana 3 periode, jika memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, maka Jokowi akan mencari suksesor yang bisa meneruskan kepemimpinannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi