“Ah, itu Eel yang tahu tuh…” kata Bang Ameng, sambil terus mengembangkan senyumnya yang ramah.
Saya teringat berita terakhir tadi saya buat tentang bocoran hasil otopsi yang tak pernah diberitakan. Sandra terbunuh dalam keadaan hamil. Kasus pembunuhan Sandra menjadi pembicaraan di kota kami. Koran kami memberitakan dengan cara yang berbeda.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (2)
Sandra adalah mahasiswi di perguruan tinggi swasta. Dia hidup bersama ibunyi, tanpa ayah, dan dua orang adik. Gadis Tionghoa asal Bangka itu, sambil kuliah bekerja sebagai agen asuransi. Rumah yang dia tinggali lumayan mewah. Rasanya agak terlalu mewah untuk seorang gadis yang hanya bekerja sebagai agen asuransi dan menanggung ibu yang tak bekerja dan dua adik yang masih sekolah. Sekolah mahal pula. Dalam pemberitaan saya, saya mendapatkan sumber yang mengarahkan dugaan dia istri simpanan seorang pengusaha di kota kami.
Mayatnyi ditemukan di hutan Bukit Mata Air. Sebuah kawasan yang dicadangkan sebagai hutan kota di pulau kecil ini. Dalam perkembangan pemberitaan, polisi mengumumkan pelakunya sopir taksi gelap. Motifnya: perampokan dan pemerkosaan. Malam kejadian itu, kata polisi, Sandra dijemput oleh si sopir taksi gelap.
Bang Jon yang mula-mula mendapatkan informasi itu. Ia pegang radio polisi, jadi tiap informasi apa pun yang beredar di antara polisi ia langsung tahu. Pada hari mayat Sandra ditemukan, aku ikut Bang Jon ke TKP. Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat korban pembunuhan. Tentu saya awam tapi saya melihat tak meyakinkan kesimpulan bahwa dia dibunuh karena perampokan dan pemerkosaan. Lagi pula apa yang dirampok? Jam tangan dan tas ranselnya masih ada. Sandra tewas dicekik.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi