Anak-anak panti berebut minta giliran membaca “Metro Kriminal”. “Berita apa lagi, Bang Dur? Ini masih Bang Dur yang meliput kan?” tanya mereka. Selalu begitu. Tiap hari. Seakan tak percaya wartawan yang menuliskannya tinggal di rumah panti bersama mereka. Sejak awal datang ke kota ini, aku mencari panti asuhan. Tak jauh dari kantor “Metro Kriminal”. Ustad Samsu yang memberi tahu tentang Panti Asuhan Abulyatama ini.
Saya serahkan koran pada Rido. Anak paling tua di antara anak-anak panti lain. Dia yang membacakan untuk adik-diknya.
“Do, kepiting yang abang bawa malam tadi sudah dipanaskan?”
BACA JUGA: Catatan Makcomblang
“Sudah, Bang…”
“Buat makan siang, ya..”
“Iya, Bang….” Kata Rido.
Bu Yani, pengurus panti memintaku bicara soal sewa panti yang habis bulan depan dan harus diperpanjang. Pengurus belum punya uang cukup. Bu Yani penggagas dan pendiri panti ini. Mungkin karena dia tak pernah punya anak. Suami pertamanyi meninggal, suami keduanyi meninggalkannyi karena tak punya anak. Dia masih kerabat Ustad Samsu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi