Pada hari pertama memberitakan kasus itu koran “Metro Kriminal” seperti koran-koran lain memberitakan persis seperti keterangan polisi. Bang Jon yang menuliskannya untuk koran kami. Pada liputan-liputan hari berikutnya, saya tetap ikut bersama Bang Jon, saya heran kenapa banyak fakta menarik yang tak ia tulis. Saya menanyakan itu kepada Bang Jon.
“Sudah, ikuti aja. Di liputan kriminal ini kita ya memang gini mainnya. Kalau kita nulis yang beda dari info humas Polres bisa ketutup akses kita, mau dapat berita dari mana?” kata Bang Jon. Kala itu kami ngobrol sambil ngopi di kantin Polres.
BACA JUGA: Elpiji DME
Memasuki minggu kedua aku menulis berita sendiri. Selama ini saya hanya numpang kode di berita Bang Jon. Meskipun saya juga yang mengeditnya sebelum diserahkan ke Bang Eel. Saya menuliskan deskripsi fakta apa yang saya lihat, saya melihat korban ditemukan di TKP. Tak ada foto, karena waktu itu kami tak boleh memotret. Siapa yang membunuh belum ditemukan. Koran-koran lain, termasuk koran kami sibuk memberitakan orang-orang membantu ibu dan adik-adik Sandra.
Kalau orang cermat membaca berita saya di “Metro Kriminal” itu maka mereka bisa menyimpulkan bahwa tak mungkin motifnya perampokan dan pemerkosaan. Tak ada barang hilang, tak ada tanda-tanda perlawanan. Ini pembunuhan berencana. Saya diam-diam mulai kenal dengan beberapa penyidik, dan mendapatkan informasi dari mereka. Diam-diam maksud saya tanpa lewat Bang Jon.
Hari berikutnya saya memberitakan jarak dari kampus dan lokasi penemuan mayat. Waktu terakhir kali orang melihat Sandra di kampus dan hari ketika mayatnya ditemukan, juga perkiraan kapan dia meninggal.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi