Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 21:26 WIB
Surabaya
--°C

Raden Ronggo Prawirodirjo III, Sang Banteng dari Mancanegara Timur

Namun, terkait kapan pastinya tanggal kelahiran Raden Ronggo, penulispun tidak dapat memastikan, karena tidak ada data yang memadai tentang hal itu, namun pastinya ia dilahirkan pada tahun 1779. Ayahnya, Raden Ronggo Prawirodirjo II masih merupakan pendukung Kesultanan Yogyakarta, hal yang menurun pada anaknya.

Qomar mengutarakan bahwa Raden Ronggo adalah pemuda yang cerdas dan pemberani, meskipun sempat disampaikan ada sebuah insiden yang membuat dirinya mulai dibenci di kalangan keraton Yogyakarta, bahkan berseteru dengan Patih Danurejo II. Ia merupakan salah satu orang yang sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Sultan Hamengkubuwono II dan pernah dekat dengan Ratu Ageng Tegalrejo yang kelak juga akan membesarkan Pangeran Diponegoro. Nampaknya, nasib kedua orang ini selaras satu sama lain.

Ia menggantikan ayahnya sebagai Bupati Wedana Madiun pada umur menuju 17 tahun ketika ayahnya wafat pada 1796 dengan gelar Kanjeng Pangeran Adipati Ario. Posisinya yang baru menjadikannya sebagai perwakilan Kesultanan Yogyakarta untuk mancanegara timur, atau abdi dalem sultan di wilayah paling timur dari kerajaan itu. Hal ini menandakan kepercayaan yang mendalam dari Sultan Hamengkubuwono II terhadap pemuda trah Prawiradirjan itu.

BACA JUGA  Penalaran Memang Harus Diuji – Dan Inilah Hasilnya: Jawaban Kedua dan Terakhir untuk Ady Amar – Kempalan.com

Banyak masalah yang menerpa Bupati Wedana Madiun itu hingga ia harus berhadapan dengan kerajaan yang seharusnya menjadi panutannya. Hal ini disebabkan upaya Belanda untuk mengambil alih Mancanegara Timur demi keuntungan mereka, kebijakan ini ditolak keras oleh Raden Ronggo Prawirodirjo III yang tidak berusaha untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang merugikan untuk pihak Kasunanan Surakarta maupun Pemerintah Kolonial.

Akibatnya, Raden Ronggo diminta untuk menghadap ke Daendels. Perintah ini dilaksanakan oleh sang penguasa Madiun, namun dengan rencana yang berbeda, yakni ia berusaha untuk melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial. Namun, upayanya tersebut juga membawanya berhadapan dengan Sultan Hamengkubuwono II yang harus mengeluarkan ekspedisi guna menangkapnya, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

BACA JUGA  Ketika Kamu Sudah Teredukasi: NPD Hanya Badut Penuh Drama

Kisah selanjutnya digambarkan secara rinci oleh Qomar, terutama tentang pergerakan Raden Ronggo dalam upayanya melawan Pemerintah Kolonial, akan tetapi perlawanan ini padam dengan tewasnya sang Banteng pada 17 Desember 1810. Hal ini menandakan berakhirnya kekuasaan sang Bupati Wedana Mancanegara Timur yang dimakamkan di kompleks pemakaman Banyusumurup, tempat peristirahatan para “pengkhianat”.

Namun epos Raden Ronggo tidak berakhir di sana, masih banyak hal lain yang nantinya diutarakan oleh Akhlis Syamsal Qomar terkait hasil dari pemberontakan gagal sang Banteng yang akan dilanjutkan dengan epilog yang cukup panjang dari Peter Carey. Semuanya termaktub dengan menarik dari buku Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta.

Judul buku: Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta

Penulis: Akhlis Syamsal Qomar, Peter Carey (Epilog)

Peresensi: Reza Maulana Hikam

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal buku: xxxiii+305 halaman

Tahun terbit: 2022

ISBN: 9786024818838

Harga: Rp.90.000 (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.