Sikap alus bisa dilihat dari penampilan ksatria dalam pergelaran wayang kulit. Sang ksatria digambarkan sebagai seorang lelaki tampan dengan badan langsing dan wajah yang halus ‘’mriyayeni’’ dengan tampang aritokratis. Bicaranya halus dan sangat tertata, pakaiannya sopan, dan gerakannya serba teratur dan tidak kasar.
Kebalikan dari sikap priyayi yang alus diwakili oleh raseksa atau ‘’buto’’ yang digambarkan dalam bentuk yang besar menjulang, mulut ekstra lebar, rambut gondrong awut-awutan, berbicara dengan suara keras, dan bertindak dengan kasar dan ugal-ugalan.
Meskipun terlihat besar dan kuat tapi dalam setiap perang tanding raseksa tidak pernah bisa mengalahkan ksatria yang yang alus. Salah satu espisode yang paling terkenal dalam pergelaran wayang orang adalah ‘’Cakilan’’ yang menggambarkan pertarungan ‘’one on one’’ antara Buto Cakil melawan Arjuno.
BACA JUGA: Sportwashing
Tingkah Buto Calik ‘’pethakilan’’ berjungkir balik, berjoget, berteriak-teriak. Sedangkan Arjuna hanya bergerak halus dengan manuver yang terbatas. Tapi, di akhir episode itu Arjuna dengan gerakan yang gemulai, tetapi penuh tenaga, melompat ke atas pundak Buto Cakil dan memotong leher sang raseksa sehingga tumbang dan tewas.
Orang Jawa yang alus tidak menunjukkan ambisi atau pamrih. Ia bekerja dan mengabdi sesuai darmanya, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Itulah sebabnya orang Jawa punya falsafah ‘’sepi ing pamrih, rame ing gawe’’, bekerja keras tanpa mengharap imbalan tertentu.
Dalam politik kekuasaan pun demikian. Seseorang yang terlihat berambisi dianggap tidak baik karena punya pamrih. Hal ini berkebalikan dengan konsep barat yang menganggap ambisi sebagai hal yang positif. Ambisi bahkan dianggap bagian dari dorongan kemajuan untuk mencapai prestasi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi