Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 06:23 WIB
Surabaya
--°C

Ojo Kesusu, Ojo Keliru

KEMPALAN: INDONESIA  itu pada dasarnya Jawa. Kalimat itu dinyatakan oleh indonesianis terkemuka Ben Anderson pada awal kunjungannya ke Indonesia pada 1964. Anderson melihat dominasi Jawa dalam politik Indonesia, terutama kuatnya figur Bung Karno dan Pak Harto.

Sampai sekarang, 60 tahun setelah pernyataan Ben Anderson itu, Indonesia masih tetap Jawa. Setidaknya, sampai sekarag belum ada presiden yang bukan orang Jawa, kecuali diselingi oleh Habibie sebagai presiden interim selama setahun. Selebihnya Indonesia adalah Jawa.

Presiden Joko Widodo ingin mengubah hal itu dengan program pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang lebih menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Secara simbolis Jokowi juga menunjukkan penampilan yang tidak Jawa sentris. Hal itu ditunjukkannya pada setiap kesempatan hari besar nasional. Pada upacara 17 Agustus tahun ini Jokowi memakai pakaian daerah Buton, Sulawesi Tenggara. Pada kesempatan sebelumnya Jokowi memakai pakaian adat Aceh, Bali, dan daerah-daerah lain.

Meski demikian, Jokowi tetap sangat Jawa dalam budaya politiknya. Dalam berbagai kesempatan ia memakai idiom Jawa untuk menyatakan posisi politiknya. Dalam hal suksesi kepresidenan 2024, Jokowi selalu memakai idiom Jawa. Ia memakai narasi ‘’ojo kesusu’’ di depan anggota relawan Projo. Lalu di Surabaya Jokowi memakai narasi ‘’ojo keliru’’.

Dalam tindakan sadar Jokowi ingin melepas sentralisme Jawa, tapi di bawah sadarnya Jokowi tetap sangat ‘’ngugemi’’ filosofi Jawa dengan segala macam pernak-perniknya. Orang Jawa tidak pernah boleh tergesa-gesa (kesusu) dalam melakukan segala hal. Jawa bukan sekadar identitas geografis atau identitas etnis, melainkan identitas filosofis.

BACA JUGA:  Farel Prayoga

Seseorang disebut ‘’ora jowo’’ atau tidak jawa, bukan karena dia berasal dari luar Jawa, tapi karena dia tidak mempunyai karakteristik Jawa. Karakteristik ini identik dengan sifat priyayi yang ‘’alus’’ atau halus. Menurut Ben Anderson, konsep alus ini benar-benar khas Jawa dan hanya bisa diterjemahkan secara harfiah termasuk ke dalam bahasa Inggris. Tidak ada padanan yang tepat dalam bahasa Inggris untuk konsep ‘’alus’’. Yang paling mendekati maknanya adalah ‘’refined’’, itupun agak dipaksakan. Ben Anderson memilih untuk tidak menerjemahkan alus ke dalam bahasa Inggris.

Salah satu karakter alus adalah tidak kesusu dan tidak keliru dalam mengambil keputusan penting. Ungkapan Jawa yang paling terkenal adalah ‘’alon-alon waton kelakon’’ pelan-pelan asal tercapai. Kecepatan dan ketergesaan bisa mengakibatkan pilihan yang keliru, dan hal itu bukan bagian dari tradisi Jawa yang priyayi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.