Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 19:52 WIB
Surabaya
--°C

Karena Kekhawatiran Resesi, OPEC Setuju Produksi Sedikit Lebih Banyak Minyak

JAKARTA-KEMPALAN: Di tengah bayangan kekhawatiran bahwa resesi akan menghambat permintaan, negara-negara pengekspor minyak setuju untuk meningkatkan produksi bulan depan.

Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan juga negara sekutunya termasuk Rusia atau dikenal dengan OPEC+, pada hari Rabu waktu setempat mengatakan bahwa mereka akan memproduksi minyak tambahan sebesar 100.000 barel per hari di bulan September.

Sejak Presiden AS mengunjungi Arab Saudi pada bulan lalu, itu merupakan pertemuan OPEC pertama kalinya. Presiden AS Joe Biden mendesak negara tersebut yang merupakan produsen minyak terbesar untuk mulai memompa lebih banyak.

Harga minyak dunia selama berbulan-bulan telah mengalami kenaikan akibat embargo dari Barat terhadap minyak Rusia dan mengakibatkan terbatasnya pasokan minyak global.

Satu galon bensin biasa di Amerika Serikat bisa mencapai USD 5 untuk pertama kalinya pada bulan Juni. Selain itu, harga minyak Brent dengan patokan harga global juga mencapai level tertinggi, yaitu USD 139 per barel.

Pada awalnya minyak mentah Brent dan juga West Texas Intermediate naik pada hari Rabu waktu setempat setelah pengumuman OPEC karena investor minyak berharap adanya peningkatan produksi yang lebih besar.

“Seiring kenaikan produksi, persentasenya sangat kecil dari keseluruhan produksi, dan jauh lebih kecil dari kenaikan bulan-bulan sebelumnya, dan dengan demikian membuat sedikit perbedaan pada gambaran pasokan secara keseluruhan,” ujar analis riset senior untuk pasokan minyak global, Hazel Seftor.

“signifikan karena menegaskan kembali komitmen kelompok OPEC+ untuk mengelola pasar,” tambahnya.

Namun, OPEC menegaskan dan menyampaikan keprihatinannya bahwa pasokan global tidak akan dapat memenuhi permintaan setelah 2023.

Stok minyak darurat di antara 38 negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang mencakup ekonomi terbesar dunia saat ini sedang berada pada level terendah dalam lebih dari 30 tahun.

Sebelumnya, Rusia benar-benar melakukan invasi ke Ukraina dan hal tersebut diumumkan secara resmi sejak 24 Februari 2022 lalu oleh Presiden Vladimir Putin.

Dampak yang ditimbulkan dari invasi tersebut menjadi salah satu pemicu melambungnya harga energi dunia dan menyebabkan adanya tantangan pada perekonomian global. (CNN/CNBC/Bisnis.com, Arlita Azzahra Addin)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.